Keesokan harinya Rafa langsung mendatangi rumah catering Nida. Pria itu berteriak-teriak di luar gerbang. “Nidaaa! Nidaaa! Buka pintunya! Aku mau masuk! Aku mau makan! Nidaaaa! Buukaaaa!” teriaknya pada Nida di dalam. “Mita? Suara apa itu? Kok kayak Mas Rafa?” Tanya Nida seraya berdiri dari kursi meja kerjanya lalu menghampiri Mita yang sedang menata pesanan bersama teman-temannya. “Iya, Mbak. Sepertinya itu suara Pak Rafa. Saran dari saya, jangan dibukakan. Sudah biarkan saja Pak Rafa di luar. Nanti takutnya Mbak Ayana datang dan bikin Mbak Nida celaka. Kelakuannya mereka itu sudah nggak bisa ditoleransi lagi,” ucap Mita dengan nada sungguh-sungguh. Kebetulan hari ini Nida juga sedang berada di rumah katering, padahal Jey sudah melarang Nida. Meski sudah ada yang menjaga keamanan di