Sementara itu di Jakarta – rumah Avelline. Si kembar yang kini sudah mengenal wajah ayahnya sering sekali berdiri di depan pintu rumah. Tubuh kecil mereka yang gempal itu akan bertopang pada kusen pintu. Mata bulatnya menatap halaman depan seolah berharap setiap mobil yang lewat akan berhenti dan menurunkan sosok yang sangat mereka rindukan. Elvara biasanya berdiri lebih lama, sementara Elnara akan menepuk-nepuk pintu kaca sambil bersuara pelan, seperti memanggil seorang yang paling mereka rindukan, seolah orang itu akan datang jika mereka melakukan itu. Avelline sering memergoki pemandangan itu. Dadanya selalu terasa sesak setiap kali melihat kedua putrinya menunggu tanpa tahu apa-apa. Mereka terlalu kecil untuk mengerti arti kehilangan, mereka tak akan paham jika diberi penjelasan te

