Kita | Bab 24

1002 Kata

Hujan belum turun, tapi langit di atas rumah keluarga Yunandhra gelap pekat seperti menahan napas. Aurora berdiri di depan pagar rumah, napasnya pendek-pendek setelah berjam-jam mondar-mandir dari satu titik ke titik lain, menanyai satpam kampus, menelpon teman-teman Ara, sampai mendatangi area sekitar kos-kosan yang bahkan sudah dia hafal tiap sudutnya. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya mencelat seperti mau copot. Tapi bukan Ara. Bukan Lena. Bukan siapa pun yang bisa menenangkan batinnya. Seseorang keluar dari balik gerbang yang otomatis terbuka. Samuel. Dengan kemeja hitam yang masih rapi dan jas yang tersampir di lengannya. Langkahnya tenang, tapi matanya langsung menangkap kegelisahan Aurora. "Aku udah ngetok pintu dari tadi," ujar Samuel pelan. Aurora tidak menjawab. Napa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN