Ketakutan | Bab 25

1260 Kata

Aurora sudah mengelilingi kampus hampir satu jam. Dari gedung fakultas, ruang seni, taman belakang, kantin, sampai kursi favorit Ara di dekat gedung FISIP. Ara tidak ada. Tidak ada satu bayangan pun yang mirip. Dia turun dari motor, napasnya tersengal, jaketnya kebasah embun malam. Lampu-lampu kampus sudah mulai dimatikan satu per satu. Rasa ngeri mulai menghalangi logika . “Gue teleponin nggak diangkat… Ara dimana sih?” gumam Aurora sambil mencoba menelepon lagi. Nada sambung panjang. Tidak ada jawaban. Perasaan mual muncul dari perutnya. Aurora menggigit bibir. Ara bukan tipe yang tiba-tiba ngilang tanpa bilang apa pun. Ara itu cerewet, gampang panik, gampang curiga, dan kalo dia pergi lama pasti bakal chat minimal sepuluh kali. Jadi ini… aneh. Karena kelelahan dan bingung ingin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN