Ruang rawat Ara dipenuhi aroma obat dan suara mesin monitor yang berdetak pelan. Lampu temaram membuat seluruh sudut kamar terlihat pucat. Ara masih tidak sadar, wajahnya lebam, bibirnya pecah, dan ada bekas memar di sekitar lehernya seperti pernah dicekik sangat keras. Lena tertidur di kursi kecil di samping ranjang Ara, kepalanya bersandar pada kasur sambil tetap menggenggam tangan Ara seakan takut kehilangan lagi. Napasnya berat dan matanya sembab, jelas ia sudah menangis semalaman. Aurora berdiri di dekat jendela. Tangannya gemetar saat memeluk dirinya sendiri. Sisa-sisa panik masih menempel di dadanya seperti sesuatu yang sulit hilang. Aurora dan Lena awalnya kesulitan untuk perkara persetujuan wali Ara. Mereka sama-sama paham kalau kedua orang tuanya itu sudah berpisah. Tapi untun

