Pertengkaran | Bab 27

1284 Kata

Aurora hampir tidak tidur semalaman. Bayangan Ara tergeletak pucat di rumah sakit terus memukul kepalanya. Suara Ara yang bergetar ketakutan masih terngiang. Setiap langkah menuju ruang kerja keluarga di lantai atas seperti dihantam gelombang panik yang tidak berhenti. Matanya sembab, tapi Aurora tetap melangkah. Dia tidak mau terlihat hancur lagi. Begitu pintu dibuka, Luna sudah duduk di sana. Elegan dan sinis. Kakinya disilangkan, satu alis terangkat saat melihat adiknya yang baru saja mengalami neraka. Luna tersenyum kecil. Senyum yang bukan sekadar meremehkan, tapi seperti sedang menikmati kekacauan orang lain. “Ngapain Lo di sini?. Gue kira lo lagi sibuk ngilang kayak biasa.” Aurora menghela napas panjang, tapi suaranya pecah sedikit. “Gue mau ngomong sesuatu.” Luna berdiri pelan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN