Pagi itu rumah keluarga Yunandhra dipenuhi aroma roti panggang dan kopi hitam yang mengepul pelan dari meja makan panjang. Tidak ada yang benar benar terlihat damai, tetapi semua berpura pura. Aurora muncul dengan rambut masih sedikit lembap dan raut wajah tenang yang terasa palsu jika diperhatikan lebih dalam. Padahal malam sebelumnya ia menangis sampai matanya panas, membayangkan Ara yang belum sadar. Namun pagi ini ia memilih menjadi sosok lain. Bukan si bungsu yang rapuh. Bukan yang mudah goyah. Pagi ini Aurora datang dengan keheningan yang tajam seperti pisau. Ia berdiri sejenak di depan meja makan dan menatap Papahnya yang sedang membaca laporan keuangan. "Papah" Aurora menyapa lembut. Suaranya terdengar ramah, tidak ada guncangan apa pun, seakan hidupnya tidak sedang berantakan.

