Ruang makan keluarga Yunandhra malam itu tampak megah, tapi suasananya kayak udara sebelum badai. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut ke meja panjang yang sudah dipenuhi hidangan, tapi tidak ada satu pun orang yang benar-benar santai. Aurora datang terakhir. Ia melangkah dengan santai, seperti tidak ada kekacauan yang sedang ia sembunyikan. Padahal baru beberapa jam lalu ia habis menangis di ruang tunggu rumah sakit, tapi sekarang ia tersenyum tenang seolah semua masalahnya sudah diselesaikan Tuhan secara pribadi. Darren yang duduk di sisi kanan Papahnya, Pak Wijaya, langsung menegakkan badan saat melihat Aurora. Ia bahkan sempat memalingkan wajah, seperti tidak siap menatap arahnya. Luna sudah duduk sejak tadi, wajahnya dingin, bibirnya mengerucut. Ia pura-pura sibuk dengan

