Ella kembali ke rumah menjelang makan malam. Dan begitu ia masuk ke ruang tengah, rupanya Alaric sudah menunggunya di sana. “Sudah pulang? Baru aja mau aku telepon.” Alaric tersenyum dan menepuk sofa di sampingnya. “Duduk sini, El, aku kangen.” Ella tak langsung menjawab, tapi ia melangkah mendekat dalam diam. Membuat ruangan itu terasa begitu sunyi, tapi ketegangan menggantung di udara, seperti badai yang siap meledak kapan saja. Ella berjalan dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. Matanya menatap Alaric—lelaki yang selama ini ia percayai, yang selama ini ia anggap sebagai penyelamatnya setelah kecelakaan itu. Tapi kini, ia melihatnya dengan mata berbeda. “Ada apa, El?” tanya Alaric saat melihat ekspresi Ella yang tampak berbeda. Ella tiba di hadapan Alaric, menarik nafas dal