Tak hanya kasar menc**m Illeana secara tiba-tiba dan membuat gadis itu menangis, William juga melukai bibir bawah hingga berdarah. Ketika seseorang menyebut nama pria itu, barulah William berhenti.
Kesempatan bagi Illeana yang seketika mendorong tubuh William menjauh dan segera pergi dari sana.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Aku mencarimu,” kata suara seorang wanita.
William memperhatikan kepergian Illeana.
“Kenapa kau di sini?” William bertanya dingin.
“Untuk mengajakmu makan siang,” kata wanita itu.
“Aku sibuk,” tolak William dan segera pergi dari sana.
Sementara itu, di toilet wanita, Illeana menatap pantulan dirinya di cermin. Tangan gadis itu mencengkram erat bawah wastafel. Kedua mata gadis itu memerah.
“Mengapa? Setelah sekian lama. Mengapa?” Illeana ingin berteriak tapi dia sadar di mana sekarang berada.
Membasuh wajah dengan cepat, Illeana kemudian keluar dari toilet. Tapi sekali lagi bertemu dengan pria itu. William menunggunya di dekat toilet wanita. Illeana ingin menghindar tapi tidak bisa karena William dengan cepat menghalangi jalannya.
“Aku tidak ada urusan dengan Direktur, jadi mohon pamit,” ucap Illeana hendak pergi.
Tapi William malah menarik tangan gadis itu dan menyeretnya pergi dari sana tak peduli di mana mereka berada yang pria itu rasakan saat ini adalah meluapkan kemarahan di dalam dadanya.
Mereka tiba di atap perusahaan dan dengan kasar William melepaskan cekalan tangannya dari Illeana membuat gadis itu terhuyung dan nyaris saja jatuh. Sementara itu William berjalan ke pembatas.
“Setelah sepuluh tahun, bagaimana kau muncul di hadapanku seolah kau tak mengenalku,” kata William.
Pria itu mencoba untuk tak meluapkan amarahnya pada gadis di belakangnya.
“Apakah aku tidak boleh kembali? Ini Negara di mana aku lahir. Jadi aku masih punya hak untuk kembali,” jawab Illeana membela. “Dan aku tak pernah menyangka akan bertemu denganmu secepat ini,” batin Illeana menatap punggung tegap William di depannya.
“Lalu, kemana kau selama ini?”
“Itu bukan urusanmu,” jawab Illeana acuh.
William berbalik, menatap dingin pada Illeana yang seketika membeku di tempat. Tidak ada yang bisa Illeana lakukan selain menghindari kontak mata dengan pria itu karena tubuhnya terkunci di tempat.
“Bukan urusanku? Apakah kau lupa bahwa aku berjanji untuk menjagamu? Tapi kau pergi begitu saja. Kau pikir, aku –“
“Aku tidak peduli!” seru Illeana menyela, membalas tatapan William tak kalah tajam dan dingin seolah tak memiliki perasaan sama sekali. “Aku tidak peduli dengan apa yang pernah kau katakan, atau janjikan. Aku hanya ingin terbebas darimu, dan asal kau tahu, bertemu denganmu adalah kesialan.”
Diam. William tak percaya dengan kata-kata yang meluncur mulus dari mulut gadis itu yang tepat berada di depannya. Wajah mereka saling berhadapan.
“Kau tidak tahu betapa aku menderita ketika bearda di dekatmu. Kau tidak akan pernah tahu apa yang aku rasakan ketika bersamamu. Aku muak. Bahkan sekarang!” Illeana menekankan setiap kata yang diucapkannya itu. “Jadi tolong jangan ikuti aku, dan bersikaplah seolah kau tak mengenal aku, maka aku akan lebih berterima kasih padamu.”
Setelah mengatakan itu Illeana pergi dari hadapan William yang terdiam tak percaya dengan apa yang diucapkan gadis itu.
Lain di hati, lain di mulut. Illeana bersandar di dinding begitu berada di tangga, jauh dari pandangan William. Air mata, dan tubuhnya tak mampu lagi bertahan. Illeana merosot, berjongkok di tempat yang sepi. Tubuhnya bergetar.
Bohong. Semua yang gadis itu katakan adalah kebohongan, tapi memang William tidak akan pernah mengetahui apa yang Illeana rasakan, apa yang gadis itu berusaha untuk disembunyikan, dan hal yang menjadi keputusan untuk pergi selama sepuluh tahun itu. Gadis itu menangis dalam diam, satu tangannya mencengkram erat d**a kirinya. Rasa sakit itu membuat dadarnya sesak.
“Tidak mungkin.” William seolah tak bisa menerima perkataan Illeana. Kaki pria itu terasa lemas lalu berteriak kencang meluapkan segalanya seraya memegangi d**a kirinya. Sakit, sakit sekali di dalam dadanya itu.
“Illeana, apa kau senggang nanti malam?” tanya seorang rekan kerja baru Illeana begitu gadis itu kembali.
“Ya. Kenapa?” Illeana menatap satu per satu teman kerja yang berkumpul di sekitarnya itu.
“Begini, biasanya kami akan mengadakan makan malam untuk menyambut orang baru di tim kami. Meskipun kau baru datang hari ini, tapi kami sudah tahu tentang kehebatanmu dalam membuat desain. Jadi kami putuskan untuk mengadakan acara makan malam untuk menyambutmu, bagaimana?” tanya salah satu dari mereka.
Beberapa saat Illeana terdiam, dan sebelum memberikan tanggapan gadis itu melihat William yang baru kembali lalu masuk ke kantornya yang memang berada di lantai yang sama.
“Boleh. Aku tidak ada kerjaan sepulang kerja,” jawab Illeana yang ditanggapi dengan sorakan gembira rekan kerjanya itu.
Kembali ke meja kerja masing-masing. Illeana duduk di kursinya, menopang wajah di telapak tangan. Illeana harus tenang sekarang agar orang lain tidak mengetahui hubungan yang pernah terjalin di antar dirinya dan sang atasan.
Di hari pertama Illeana bekerja di perusahaan itu belum banyak pekerjaan yang membuatnya tenggelam pada kesibukan, tapi meski begitu Illaeana mencoba mengerjakan apa saja untuk mengalihkan pikiran dari William. Sementara itu Illeana seperti bisa merasakan sebuah pandangan menembus ke arahnya.
“Aku benar-benar sial atau waktu ingin aku mengulang masa itu lagi?” gumam Illeana kesal ketika mengangkat wajah dan menemukan tatapan tajam dari arah depan.
Kantor Illeana itu masih satu lantai dengan kantor William hanya saja terhalang kaca besar sebagai pembatas ruangan meski begitu William bisa mengawasi dari tempatnya bekerja dan itu membuat Illeana tidak nyaman.
“Tidak mungkin aku pergi, bukan? Aku sudah menandatangani kontrak, jadi tidak bisa pergi begitu saja. Dan sial sekali, atasanku adalah … ah, lupakan itu. Aku sungguh sedang sial.”
Illeana merutuk sembari menggoreskan ujung pensil ke kertas putih menggambar sebuah lukisan abstrak sebagai pelampiasan emosinya. Dalam hati berharap waktu berlalu agar bisa segera pulang dan menghirup udara dengan bebas. Berbagi udara di bawah atap yang sama dengan sang atasan membuat Illeana justru tak bisa bernapas dengan bebas.
Matahari mulai menampilkan cahaya senja. Illeana mengangkat wajah ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya.
“Sudah waktunya pulang. Ayo, kita makan malam bersama untuk menyambutmu. Kamu tidak keberatan bukan, Nona Illeana?” Salah seorang rekan baru Illeana berdiri di depan meja kerjanya.
“Oh, ya, tentu. Ayo pergi. Aku juga sedang ingin minum,” kata Illeana.
Rekan baru gadis itu menyambut dengan senang. Posisi Illeana saat ini adalah sebagai ketua tim desainer, dan entah mengapa ditempatkan satu lantai dengan sang direktur. Illeana tidak ingin banyak berpikir, dan memilih untuk tidak peduli bila semua itu telah direncanakan.