3. Kau Segala Rasa Bagiku

1116 Kata
Makan malam yang seharusnya menjadi acara penyambutan Illeana dengan hangat berubah menjadi canggung karena kehadiran William. Wibawa yang pria itu miliki membuat orang lain segan. Para karyawan yang sudah mengenal William tentu saja tidak punya keberanian untuk bicara pada akhirnya mereka hanya mampu terdiam dengan kepala tertunduk. “Karena kalian sudah menyediakan waktu membuat rencana ini, ayo makan. Terima kasih atas sambutan kalian untukku,” ucap Illeana memecah keheningan yang tercipta karena kehadiran sang atasan yang sama sekali tak terduga. Illeana mengangkat gelas untuk mengawali acara makan malam itu lalu disambut yang lain. Meskipun sungkan karena William, mereka tetap menyantap makan malam mewah itu. Karena adanya sang atasan, pria itulah yang akan membayar, tentu saja mereka senang dan berbagai hidangan mewah tersaji di meja. “Anda membuat suasana menjadi suram, Direktur,” ucap Illeana dengan nada menyindir. “Aku harus hadir untuk menyambutmu sebagai bawahaku, Nona Illeana. Jadi, kalian tak perlu mempedulikanku, makan saja,” kata William dingin. Mereka menyahut pelan, kentara sekali takut. “Kalian dengar, kan? Jadi, makanlah saja selagi Direktur kita berbaik hati membayar makanannya. Jangan sampai terbuang sia-sia,” kata Illeana seraya mengambil satu makanan yang tersaji lalu menyuapkannya ke mulut. Belum juga mulut Illeana berhenti mengunyah, gadis itu sudah mengambil makanan yang lain lalu menaruhnya di piring. Tindakan yang dilakukan Illeana itu diikuti yang lain. Mereka mulai makan, bahkan tak lagi sungkan. Perut lapar setelah pulang kerja tentu saja membuat mereka tak bisa bertahan lebih lama, dan Illeana tahu akan hal itu maka berinisiatif untuk memulainya lebih dulu. Begitu mereka larut dalam makanan sambil tertawa, selanjutnya Illeana hanya menghabiskan beberapa anggur merah di gelasnya. Kehadiran William itu mendorong Illeana untuk meneguk lagi, dan lagi cairan yang mampu merampas kesadaran itu dan memberikan efek pusing setelahnya. Tapi emosi yang tertahan di dalam d**a Illeana tak mampu mengendalikan diri untuk mengahabiskan cairan itu. “Kau terlalu banyak minum,” ujar William dingin. Tentu saja, sejak tadi William memperhatikan Illeana dengan kedua tangan terlipat di d**a. “Itu bukan urusanmu, Direktur. Kehadiranmu membuatku tak bisa berhenti minum,” timpal Illeana cuek. William kesal karena sikap gadis itu, dan menghentikan dengan paksa gerakan tangan Illeana yang hendak menuangkan cairan merah itu lagi ke gelasnya yang sudah kosong. “Hentikan,” ujar William. Nada suaranya masih terdengar baik walaupun tetap dingin. Illeana mengangkat pandangan, balas menatap pria itu dingin. Kesaran Illeana mulai terpengaruh, gadis itu sedikit melantur dan nada suaranya tak jelas. “Minggir. Anda tak perlu mempedulikanku, Direktur yang terhormat. Aku masih ingin minum, sayang bila aku melewatkannya,” kata Illeana melepaskan tangan William secara kasar lalu menuangkan cairan merah tersebut hingga penuh. Dalam satu tegukan gelas itu kosong. Illeana melap ujung bibirnya dengan punggung tangan kesadarannya semakin terpengaruh dan mata gadis itu mengarah tepat pada William yang diam. “Kau, kenapa kau selalu mempersulitku?” ucap Illeana dengan kedua kelopak mata yang tampak berat. “Kau menyakiti hatiku,” lanjut gadis itu. Mereka yang mendengar Illeana melantur karena pengaruh minuman itu menghentikan gerakan, mengarahkan perhatian pada Illeana sambil terdiam, bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Illeana? William menghela napas, sedangkan Illeana menaruh kepala di atas meja, kesadaran tersisa sedikit. “Kalian lanjutkan makan. Aku sudah membayar semuanya, dan apa yang kalian dengar dari mulutnya, jangan sampai bocor di kantor. Bila besok aku mendengar rumor tak jelas, aku akan bertindak. Kalian paham?” “Ya, Direktur.” Mereka menyahut serempak. “Bagus. Aku akan membawanya pergi. Kalian sudah bekerja keras.” William bangkit, menghampiri Illeana dan memintanya untuk bangun tapi Illeana menolaknya. “Aku tidak mau denganmu,” ucap Illeana menceracau tak jelas. Tak ingin kehilangan kesabaran di tempat umum dan di depan karyawannya sendiri, William menarik tangan Illeana dengan kasar. Pertemuan pertama mereka hari ini setelah sepuluh tahun masih menyisakan perasaan campur aduk yang menyiksa tapi meski begitu mereka mencoba bersikap seperti biasa. Illeana terus menolak dan William terpaksa menarik tangannya lagi lalu membawa gadis itu pergi dari sana dengan memapahnya. Di dalam mobil milik William, pria itu terdiam dengan tatapan tertuju pada Illeana yang tak sadarkan diri tapi gadis itu masih bergerak tak jelas, bahkan bersuara. “Anda akan membawanya ke mana Direktur?” tanya sopir William itu. “Kita pergi ke hotel, aku tidak tahu di mana dia tinggal,” kata William. “Baik.” Sopir itu mulai menjalankan mobil dan menuju ke hotel terdekat kemudian. Menyandarkan punggung, dan menutup mata, William kembali merasakan gejolak di dalam dadanya. Dengan Illeana di sisinya, tentu perasaan itu kembali terpicu. Ada begitu banyak emosi yang tersimpan dalam d**a, bertumpuk, dan salah satu rasa itu adalah rindu tapi ketika akhirnya yang dirindukan di depan mata, entah mengapa William justru merasa marah. “Kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi aku.” William membuka mata, melirik ke arah Illeana. “Kau, adalah segala rasa bagiku. Kenapa harus bertemu denganmu lagi?” Illeana melantur. Kedua mata gadis itu terbuka, tapi kesadarannya tidak. Pria itu terdiam kala melihat air mata menetes dari pelupuknya. “Kau mungkin tidak tahu, kepergianku adalah karenamu.” Setelah mengatakan itu Illeana menutup mata, dan tertidur menyisakan pertanyaan besar bagi William yang semakin diam. Rasa tak percaya tergambar di wajah dingin pria itu, dan pikirannya menerka karena apa? Tiba di hotel, William membopong tubuh Illeana karena gadis itu sudah tertidur. Setelah mendapatkan kunci kamar, dan menuju ke sana lalu membaringkan Illeana di kasur tapi William tak lantas pergi dari sana. “Kau juga mungkin tak tahu, aku selalu menunggu,” ucap William dengan suara pelan. Mereka sama-sama bertemu, tapi ada sesuatu yang membuat keduanya tak bisa akur sekarang. Duduk di sisi ranjang, menatap wajah yang dirindukannya itu William menyangkat satu tangan lalu bergerak ke wajah Illeana tapi hanya berhenti di udara. Mendadak ada yang membuat William ragu untuk menyetuh wajah gadis itu walaupun hanya rambutnya saja. Padahal tadi William sempat menyakiti Illeana dengan memaksakan diri mendekat pada gadis itu. “Setidaknya kau kembali. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi,” kata William sebelum pergi dari sana membiarkan Illeana tidur. William tidak tahu kalau Illeana tak sepenuhnya tidur. Begitu suara pintu tertutup barulah Illeana membuka mata, dan tanpa bisa ditahan air mata itu kembali mengalir. Rasa sesak di dalam d**a membuat Illeana tak mampu untuk berkata selain memejamkan mata. Apa yang salah? Kapan masa itu akan berakhir? Pertemuan hari ini saja sudah membuat Illeana sesak di d**a, bagaimana kedepannya yang akan bertemu William setiap hari di jam kerja. Di pertemuan pertama setelah sekian lama saja Illeana goyah, bagaimana dengan pertemuan-pertemuan yang akan datang? Bisakah Illeana bertahan, dan membohongi dirinya juga William sekali lagi tentang alasan kenapa Illeana pergi sepuluh tahun lalu. “Asal kau tahu, kehadiranmu merepotkan ….” Sepenggal ucapan William yang Illeana ingat meneguhkan keputusannya kala itu. Namun Illeana tidak tahu apapun lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN