55 - Tuntutan Kedua

1652 Kata

Nera mengerjap-ngerjapkan matanya. Mulutnya sedikit ternganga. Bukan hanya terkejut oleh kalimat Fatih, raut wajah laki-laki itu lebih mencengangkan buatnya. Ekspresi Fatih terlihat rumit. Ada gelisah, ada sedih, ada sedikit ketakutan yang terlihat di sana. Nera menelan ludah. Sepertinya, kalimat itu bukan sama sekali candaan. Padahal ia berharap itu hanya gurauan semata. Kalau begitu, akan lebih mudah baginya untuk memberi respons. Ia cukup tertawa saja. Tapi ini, tak ada tanda-tanda Fatih akan menyangkal bahwa itu hanya candaan. Nera membuka mulutnya, siap bersuara. “Maafkan aku…” Fatih lebih dulu bicara. “Ah…” Nera kehilangan kata-katanya. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya, kembali menatap langit senja yang hampir gelap. Matahari sudah sempurna tenggelam. Tersisa semburat jingga y

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN