“Kau mau menjebloskan kami ke penjara, hah?!” Hakim ketua itu melotot ke arah Baskara. Sekarang mereka sedang berada di ruangannya.
“Memangnya aku harus bagaimana? Masuk penjara sendiri?” Baskara menggeleng. “Nggak! Aku nggak mau! Memangnya siapa yang memaksa untuk mengangkat kasus ini? Kamu ‘kan?!” Ia menunjuk Bambang tepat di depan hidungnya.
Bambang menepis tangan Baskara. “Jaga ucapanmu! Kalau bukan karena ketedoranmu, rencana kita berjalan sempurna. Bagaimana bisa kamu tidak tahu kalau ada rekaman itu?”
“Ya mana aku tahu kalau si Wirahadi itu ternyata merekam obrolan kami.” Baskara mengedikkan bahu. Merasa tak bersalah.
Bambang mendengus kesal. “Setelah ini bagaimana, Pak?”
Sang hakim ketua menghela nafas. Ia memijit pelipisnya, kepalanya terasa pening. Urusan ini jadi rumit sekali.
“Kita harus segera menyelesaikan sidang ini, menutupnya dan menetapkan hukuman untukmu.” Ujar sang hakim ketua.
“Hah?! Untuk saya?!” Baskara maju selangkah. Wajahnya panik. Ah, sejak tadi ia memang sudah panik.
“Tentu saja? Untuk siapa lagi?” Hakim ketua mengernyit tak suka.
“Anda akan memasukkan saya ke penjara? Anda tega sekali!” Baskara merengek, hampir menangis.
“Hei, kau tidak memahami situasi, hah? Sidang ini sudah berakhir. Jaksa muda itu menang telak. Dilihat dari sudut manapun, semua buktinya jelas mengarah padamu.”
“Tapi…” Baskara meremas tangannya. Laki-laki itu terlihat seperti anak kecil yang takut dihukum oleh orang tuanya ketika ketahuan bersalah.
“Tenang saja…” Hakim ketua menepuk pundak Baskara lembut. “Kau bisa mengajukan banding untuk meringankan hukumanmu. Bambang akan membantumu.” Ia menatap Bambang.
Pengacara itu mengangguk mantap.
Baskara ingin menanggapi, tapi sang hakim ketua sudah berbalik dan duduk di kursinya. “Aku akan menjadwalkan sidang penetapan hukuman sekitar tiga hari lagi. Persiapkan dirimu. Jangan sampai bicara yang tidak perlu di persidangan nanti.” Ujarnya pada Baskara yang terlihat masih tak terima.
“Tapi…”
Hakim ketua mengangkat tangan kanannya. Memberi peringatan agar Baskara tutup mulut. Baskara menurut. Tapi ia gondok sekali. Dadanya dibakar amarah pada dua orang itu. Mereka yang meminta agar kasusnya diangkat, tapi mereka juga yang tidak mau ikut menanggung akibatnya. Yah, memang manusia selalu insting untuk bertahan hidup. Entah itu dengan mengorbankan orang lain atau tidak.
“Kalian… keluarlah!” Sang hakim ketua mengibaskan tangannya. Kemudian melonggarkan krah kemejanya yang mulai terasa sesak sejak di dalam ruang sidang tadi.
“Baik, Pak.” Ucap Bambang sembari tersenyum sopan.
Baskara mendengus. Melirik sinis laki-laki tambun yang duduk bersandar di kursi kebesarannya. Ditatap begitu sinis, hakim ketua itu justru menyeringai.
Baskara balik badan. Berjalan cepat menuju pintu. Hampis saja ia membanting daun pintu jika tidak ingat bahwa itu adalah gedung milik negara.
“Bambang, kau benar-benar bisa membantuku untuk meringankan hukumanku?” Baskara menjajari langkah pengacaranya.
“Tentu saja.” Jawab Bambang mantap. Ia menepuk pundak Baskara pelan. “Tenang saja. Kita hanya harus membungkam Pramana dan sekutu-sekutunya dengan memenangkan mereka dalam sidang ini. Tapi soal penetapan hukuman, hakim yang menentukan. Dan tentu saja, aku bisa menjamin hukumanmu bisa dipangkas.”
Baskara menghela nafas, tersenyum tipis. Ia merasa sedikit tenang.
Suara langkah kaki mereka saling bersahutan. Lorong kantor pengadilan yang sepi terasa dingin. Cukup untuk mendinginkan amarah Baskara yang tadi sempat meledak-ledak. Tapi, tidak dengan Bambang.
“Hanya saja…” Suara Bambang lirih, mirip seperti berbisik.
Baskara menoleh.
“Jika kau bertindak gegabah seperti tadi lagi, aku pastikan kau akan membusuk di penjara.” Bisik Bambang penuh penekanan.
Baskara menahan nafas. Itu jelas sebuah ancaman.
***
Nera berjalan cepat menuju gerbang utama kampus. Tangan kanannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga.
“Iya aku tahu.” Nera berseru gemas. Nafasnya sedikit terengah. Berjalan sejauh puluhan meter dengan kecepatan tinggi membuatnya sedikit kehabisan nafas.
“Sekarang kamu di mana?” Tanya Fatih dari seberang telepon.
“Aku mau pulang. Aku takut ayah berulah lagi.” Sembari berbicara di telepon, Nera menoleh ke kanan. Melihat tanda-tanda kedatangan ojek online yang ia pesan beberapa menit lalu.
“Naik apa?”
“Udah pesan ojek online.”
“Wah, aku kaget banget, Ra, sidangnya bakal jadi serusuh itu.”
“Apalagi aku!” Sergah Nera. Ia pun tak menyangka akan melihat ayahnya berteriak-teriak, menunjuk-nunjuk orang lain, bahkan wajahnya terlihat memerah saking marahnya. Untung saja tadi ia batal menyebutkan bahwa Bambang adalah ayahnya. Jika tidak, kerusuhan itu pasti akan jadi gosip hangat di kalangan mahasiswa.
Fatih terkekeh.
“Hei!”
“Ya?” Tawa Fatih berhenti seketika demi mendengar seruan Nera.
“Kita ada urusan, ya, Tih.” Katanya tegas.
“Eh? Urusan apa?” Tanya Fatih bingung.
“Masa kamu nggak nonton?”
“Nonton apa?”
“Ayahmu juga ada di sana. Dia jadi saksi dari pihak lawan. Masa kamu nggak tahu?” Nera menyipitkan mata. Ia tak yakin Fatih tak tahu akan hal itu.
“Ah, itu…”
Sudah cukup. Jawaban itu sudah cukup membuat Nera yakin bahwa Fatih mengetahui sesuatu.
“Ya sudah. Kalau ada waktu luang, segera kabari aku. Ingat, kita ada urusan, Tih. Dah dulu, ojek pesenanku sudah datang.”
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Nera. Ojek online yang ia pesan sudah berhenti tepat di hadapannya, siap mengantarnya pulang. Menyelamatkan mama dan kakaknya dari amukan sang ayah yang bisa saja terjadi lagi.
Dalam satu gerakan cepat, Nera menyambar helm yang diberikan si tukang ojek dan duduk di belakang. Menyuruh si tukang ojek untuk melaju cepat, sebelum ia benar-benar terlambat. Bayangan kejadian beberapa waktu lalu kembali berkelebat. Nera tak ingin terjadi lagi.
***
Matahari di atas langit kota siang ini bersinar cerah. Meski posisinya sudah sedikit bergeser ke arah barat, tapi suhu panasnya belum juga turun. Para pengendara motor terlihat menyipitkan mata saat berhenti di perempatan jalan. Sementara pengendara mobil tak ada yang berani membuka kaca jendela mobil, mereka lebih memilih menyalakan AC mobil. Tukang becak yang sedang mangkal sibuk mengipasi wajah mereka dengan topi atau handuk lap. Dan yang paling mengenaskan adalah para pengguna angkot. Baik itu sopir ataupun penumpangnya. Angkot tidak memiliki fasilitas AC di dalamnya, pun siang ini tak ada angin yang berhembus kecuali saat angkot sedang jalan. Maka, jika angkot sedang berhenti begini, manusia-manusia yang ada di dalamnya terasa seperti berada di dalam sauna. Panas luar biasa.
Cuaca yang sangat tidak manusiawi inilah yang membawa sekutu-sekutu Pramana untuk berhenti sejenak. Menepi ke sebuah warung es campur yang terletak di dekat perempatan jalan. Tiga serangkai itu turun dari mobil Reza. Bergegas masuk dan memesan menu andalan warung tersebut.
“Tiga porsi es campur, ya, Pak.” Ujar Reza pada laki-laki berkumis tebal yang sedang sibuk melayani pembeli. Kedua tangannya bergerak cepat dan lihai. Mengambil isian es campur, menuangkan es serut, sirup, dan kental manis. Ah, terlihat sedap dan menyegarkan.
“Hampir saja kamu viral, Dan.” Reza menepuk pundak Aidan. Duduk di sebelah anak muda yang sudah ia anggap seperti keponakannya sendiri.
“Hahaha. Untung Om langsung menyeret saya pergi. Saya bener-bener nggak nyangka mereka menghampiri saya.”
“Kalau aku sudah mengira itu akan terjadi. Untungnya Reza peka. Jadi kamu selamat.” Pramana duduk di depan Aidan. Ikut berkomentar.
“Hahaha.” Aidan dan Reza tergelak.
Tiga laki-laki itu sedang duduk di sebuah warung es campur yang cukup terkenal dengan rasanya yang nikmat dan porsinya yang besar. Mereka sepakat untuk makan es campur alih-alih makan siang. Suhu udara yang begitu panas, ditambah tidak adanya angin sepoi-sepoi, membuat tenggorokan terasa sangat kering. Mungkin, menyantap makanan atau minuman dingin bisa sedikit mendinginkan tubuh.
“Selanjutnya… bagaimana, Pram?” Reza mulai memasuki obrolan serius. Tawanya sudah reda.
“Apanya?” Tanya Pramana santai.
“Masih ada sidang berikutnya. Apa strategimu?”
“Oh…” Pramana melipat tangannya di atas meja. “Sidang berikutnya tak perlu strategi apapun. Mereka harusnya sudah tahu diri dan mengakhiri kasus ini.”
“Maksudmu?” Reza mengernyit.
“Direktur rumah sakit itu, harusnya akan dijatuhi hukuman di sidang berikutnya.”
“Loh? Hanya direktur RS itu aja? Sekutu-sekutunya yang lain bagaimana?” Sergah Aidan cepat. Jelas ia tak terima. Ayahnya meninggal di penjara setelah menerima tekanan yang begitu besar dari mereka. Tentu saja orang-orang itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Bahkan, jika dinilai secara mental, mereka telah membunuh Wirahadi.
“Tenang saja. Untuk itu aku sudah menyiapkan strategi lain.” Jawab Pramana santai.
Reza dan Aidan saling pandang, tak mengerti.
“Aku sudah menyiapkan tututan untuk Bambang, kasus suap.” Pramana tersenyum, penuh makna.
“Tapi… itu ‘kan hanya Bambang? Bagaimana dengan yang lain? Yang lain ‘kan juga terlibat?” Alis Aidan bertaut erat. Bagaimanapun caranya, semua orang yang terlibat harus dihukum. Kira-kira, begitulah prinsip Aidan.
“Wah…” Pramana mengangkat alis, menatap Aidan. “Kamu benar-benar tak ingin melewatkan satupun, ya?”
“Tentu saja. Karena keegoisan mereka, ayah saya yang nggak bersalah jadi korban. Saya jadi anak yatim, ibu saya jadi janda, dan kakek nenek saya kehilangan anak yang mereka banggakan!” Aidan menggeram. Tangannya sampai mengepal kuat.
Pramana terkekeh pelan. “Baiklah. Karena aku juga benci orang-orang seperti mereka, aku akan membantumu sampai akhir. Menghukum semua yang terlibat. Sampai ke pejabat itu.”
Aidan tersenyum. Senang sekali mendengar itu dari Pramana.
“Tapi, bagaimana strategimu, Pram?” Reza terus mengulangi pertanyaan yang sama.
“Nah, saat inilah kelicikan diperlukan, Za.” Pramana menyeringai. “Aku akan mengajak Direktur RS itu untuk bekerja sama denganku.”
“Apa?!” Reza mendelik. Benar-benar tak menyangkan dengan rencana yang dikatakan Pramana.
Tapi jaksa muda itu mengangguk mantap.
“Permisi…” Seorang wanita awal empat puluhan mendekati meja mereka. Membawa nampan berisi tiga mangkok es campur. Sejenak, obrolan mereka terputus.
Wanita itu meletakkan mangkok-mangkok es campur di atas meja, lalu pamit undur diri.
“Wah…” Pramana berseru. Gegas menyantap es buah yang terlihat begitu menggiurkan. Segar dan manis.
“Apa yang akan kau tawarkan supaya dia mau bersekutu dengan kita?” Reza bertanya di sela-sela suapan.
“Tentu saja sesuatu yang paling dia inginkan. Yang membuatnya tidak bisa menolak tawaranku.” Pungkas Pramana dengan senyum yang masih menyeringai.