Desi menuangkan teh ke dalam cangkir lalu memberikannya untuk Vania, mereka masih duduk di ruang tamu lantaran Vania belum lama baru saja datang. “Kok nggak bilang dulu sih kalau mau datang nginap, Va? Mama kan bisa masakin lebih banyak dan kita bisa makan malam bersama.” Gumam Desi dengan lembut, meskipun terkejut dengan kedatangan Vania yang terkesan mendadak, namun tetap saja ia merasa sangat senang putrinya berkesempatan menginap lagi di rumah ini. Vania tersenyum, ia tidak menunggu tehnya semakin lama didiamkan, lalu diseruputnya perlahan. “Emm... teh bikinan mama memang yang paling enak.” Goda Vania, seakan pura pura tidak mendengar pertanyaan untuknya. Desi tersenyum geli mendengar pujian berlebihan dari Vania. “Kamu ini ada ada saja, hanya teh biasa, siapa saja bisa bikinnya.” U

