Brian menunggu kedatangan Vania di dalam kelas, hanya di sanalah ia bebas menunggunya tanpa dihindari dengan risih. Apa bisa dikata, Vania tetap berkeras hati mengacuhkannya bahkan hingga perutnya semakin membuncit pun kondisi tetap saja sama. Brian hanya bisa menatap Vania dari kejauhan, tanpa punya celah untuk mendekatinya. Vania selalu disita oleh Maria, setiap ada kesempatan keduanya selalu bersama. Vania tahu ada sepasang mata yang tak pernah lepas menatapnya. Selalu seperti itu sejak beberapa bulan belakangan, dan Vania tak mengindahkannya. Ia tak akan memberikan secuil harapan pada hati yang sungguh tidak bisa ia bukakan kesempatan. Tak terasa satu jam empat puluh menit telah berlalu, kelas hari ini pun berakhir, dan seperti biasa Vania bergegas merapikan alat tulisnya agar bisa s

