Desi dan Arman duduk di lorong dekat ruang perawatan Vania, meskipun tiada bangku di sana, mereka duduk tanpa beralaskan apapun di lantai. Sejenak mereka terdiam, karena lelah serta emosi yang tersisa karena Daniel. “Ma, kamu ikut Vania saja beberapa hari di rumahnya. Papa nggak tega kalau dia dibiarkan sendiri ngurus bayinya. Dia belum tahu apa-apa, bimbing saja dia biar lebih telaten ngurusi anaknya.” Gumam Arman yang melirik ke arah Desi, menatap wajah lelah wanita itu yang terus memaksakan diri tetap terjaga melawan kantuk. Desi mengangguk senang, “Terima kasih ya pa, mama juga kepikiran dan untungnya kamu dukung juga. Aku akan ikut Vania ke rumahnya, demi anak dan cucu kita.” Ujar Desi senang. Sementara Daniel sudah tak terlihat batang hidungnya saat keluar dari ruang perawatan.

