Kinara menggigit bibir. Kontrolnya kian lama kian melemah. “Itu nggak enak, jadi aku nggak pengin kamu ngerasain ha itu. Kalau eksistensiku bikin kamu takut, ya aku harus pergi. Aku nggak mau jadi sumber ketakutanmu. Nggak. Kamu udah mengalami terlalu banyak, aku nggak—” Kata-kata Dewa tidak terselesaikan, karena mendadak Kinara bangkit dan berhambur memeluk pria itu. Meski terasa jelas dari gesturnya bahwa dia kebingungan, perlahan-lahan Dewa balas memeluk Kinara, melingkarkan kedua tangannya ke punggung Kinara yang memeluk erat-erat. Kini Kinara paham kata-kata Dewa di mobil berminggu-minggu lalu. “Kamu yang cerita sedih, kenapa aku yang butuh pelukan?” bisik Kinara getir. Dewa memeluknya lebih erat, menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Kinara. Embusan napasnya terasa jelas. “Th

