Ketika mengajak Tamia, Lina, dan Diana untuk menghibur diri ke PG, Kinara sudah berniat untuk mabuk hingga pingsan. Mungkin dengan begitu, esok hari ketika bangun dengan tubuh luluh lantak dan kepala seperti dipukuli, otaknya akan sedikit lebih mudah diatur dan dikendalikan. Botol pertama cepat tandas. Mungkin karena Tamia juga ikut-ikutan minum. Entah bagaimana Tamia akan memastikan Kinara pulang dengan selamat, jika dia sendiri ikut-ikutan mabuk. Namun, Kinara tidak mau memikirkan itu. Biar Tamia saja. Seiring tuangan gelas, pikiran Kinara semakin terasa kabur, tetapi dengan cara yang menyenangkan. Benaknya terasa ringan, seolah-olah simpul-simpul tali yang mengikatnya selama berhari-hari ini telah dilepaskan. Seolah-olah borgol besi yang memberati kakinya sudah dilepaskan. Kinara jadi

