Bab 5

1116 Kata
Dina merasa seperti sosis yang dipaksa masuk ke dalam plastik yang kekecilan. "Suami ... harus banget saya pakai ini? Nggak ada yang lain?" kata Dina sedikit protes. "Tidak." Aksa yang sedang sibuk membenarkan dasinya, bahkan dia tak menoleh. Gaun navy blue berbahan satin itu membalut tubuhnya dengan sangat pas, membentuk lekuk pinggang Dina yang ramping bak jam pasir,, sampai-sampai dia ragu apakah paru-parunya masih punya ruang untuk mengembang. Jangankan bernapas, untuk sekadar bersin saja Dina takut jahitan di bagian pinggangnya akan menyerah dan meledak. Belum lagi sepatu hak tinggi dua belas senti yang membuatnya merasa sedang berjalan di atas egrang yang licin. "Suami, kalau nanti saya pingsan karena kekurangan oksigen, tolong jangan kasih napas buatan di depan umum lho, ya. Malu, nanti dikira kita lagi audisi film porno," gerutu Dina sambil berusaha membetulkan posisi duduknya di dalam mobil mewah Aksa. Aksa, yang duduk di sampingnya sambil sibuk memeriksa tablet, melirik Dina sekilas. "Anda terlihat pantas, Dina. Berhentilah mengeluh." "Pantas menurut Bapak itu artinya tersiksa menurut saya," balas Dina sinis. "Ini gaun kalau saya duduknya sedikit miring saja pasti langsung sobek. Terus, ini acara apa sih sebenarnya? Kenapa saya harus dandan kayak manekin toko begini?" "Gala amal tahunan. Akan ada banyak kolega dan media. Ingat pesan Bu Rosa, jangan bicara kalau tidak perlu, dan tetaplah berada di dekat saya," kata Aksa, suaranya kembali ke mode bos besar yang kaku. "Benar kata Anda, Pak. Saya lebih mirip duyung kalau begini." Dina mencibir, menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang gelap. Dina membenci hidupnya yang harus menjadi aksesoris seperti ini. Di mata orang-orang, dia adalah perempuan beruntung yang dapat jackpot CEO ganteng milyuner. Mereka tidak tahu saja kalau di balik gaun mahal itu, ada hutang lima miliar dan keinginan kuat untuk makan gorengan di angkringan pinggir jalan. 'Sumpah ya, berasa kayak badut yang dipaksa pakai mahkota. Cantik di luar, tapi dalemnya lagi teriak-teriak pengen pulang.' Begitu mobil berhenti di depan lobi hotel bintang lima, kilatan lampu kamera langsung menyerbu mereka. Mereka tutun dari mobil, Dina mendadak kaku, otot wajahnya mendadak kram. Dia merasakan tangan Aksa melingkar di pinggangnya, rasanya hangat, Aksa mencengkeram Dina seolah benar-benar miliknya. "Senyum, Dina. Ini saatnya Anda bekerja," bisik Aksa tepat di telinganya. Napasnya yang berbau mint terasa menggelitik, tapi Dina terlalu sibuk menahan perut agar tidak terlihat buncit. Dina menarik napas, lalu memasang senyum paling palsu yang pernah ia buat. Senyum yang sudah ia latih di depan cermin sampai pipinya pegal. Mereka berjalan masuk, dan setiap mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik mulai terdengar, menebak-nebak siapa sosok perempuan yang berhasil menggandeng "Si Manusia Marmer" Aksa Dwi Saputra. Di tengah kerumunan itu, Dina melihat seorang wanita berdiri dengan segelas sampanye. Wanita itu cantik, putih, dan memiliki body goals yang mirip barbie, tipe cantik yang bikin cewek lain merasa minder jadi manusia. Rambut merah marunnya jatuh sempurna, dan gaun merahnya sangat mencolok, seolah dia ingin bilang, "Look at me, I'm the queen." Tapi tatapannya pada Dina ... itu bukan tatapan kagum. Itu tatapan yang biasa digunakan orang saat melihat kecoak di atas kue ulang tahun. "Itu siapa? Teman Bapak?" bisik Dina tanpa melepaskan senyum palsunya. Rahang Aksa mengeras. Dina bisa merasakan tangan Aksa di pinggangnya sedikit menegang. "Bukan siapa-siapa. Abaikan saja." Tapi wanita itu justru berjalan mendekat. Langkahnya tenang, anggun, tapi auranya terasa seperti angin sebelum badai. Bahkan mata Dina tak bisa berkedip melihatnya. "Aksa," sapa wanita itu. Suaranya halus seperti sutra, tapi entah mengapa Dina merasa ada duri di dalamnya. "Lama tidak bertemu. Jadi ... ini alasan kamu menghilang belakangan ini? Istri yang tiba-tiba muncul dari antah berantah?" Aksa menatap wanita itu dingin, tanpa ekspresi. "Clara. Aku tidak tahu kamu ada di daftar undangan." "Aku selalu ada di mana pun kamu berada, Aksa. Kamu tahu itu," Clara beralih menatap Dina. Dia memperhatikan Dina dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah sedang menghitung berapa harga barang yang menempel di tubuh Dina. "Jadi, ini Nyonya Aksa? Cantik sih ... tapi sepertinya dia agak kesulitan bernapas di dalam gaun itu. Apa kamu membelinya di toko yang salah, Aksa?" Dina merasakan darahnya mendidih. 'Wah, ini nenek lampir langsung ngajak ribut di ronde pertama,' batinnya. "Oh, halo Mbak Clara ya? Saya Dina," sapa Dina dengan nada yang dibuat sok ceria, tapi matanya menantang. "Iya nih, gaunnya emang agak sesek. Maklum, pilihan Suami saya. Katanya dia suka lihat saya yang ... menonjol. Biar nggak bosen lihat yang datar-datar terus gitu, Mbak." Aksa melirik Dina dengan tatapan 'apa-apaan kamu?', tapi Dina tidak peduli. Dia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak hanya karena dia "orang baru" di sini. Clara tersenyum tipis, tapi matanya tetap sedingin es. "Lucu sekali. Aksa, kamu benar-benar punya selera yang unik sekarang. Sangat berbeda dari saat kita masih bertunangan dulu." "Masa lalu tidak relevan, Clara," potong Aksa tajam. "Ayo, Dina. Kita harus menyapa tuan rumah." Aksa menarik Dina pergi, meninggalkan Clara yang masih berdiri di sana. Dina sempat melirik ke belakang, dan dia melihat Clara sedang menyesap sampanyenya sambil menatap punggungnya dengan tatapan yang mengerikan. Dina merasa ada aura jahat dari cewek bernama Clara itu. Siapa dia? Mantan Aksa yang gagal move on? 'Nenek lampir itu kayak predator yang lagi ngincer mangsa. Dan mangsanya itu gue, astaga.' Dina bergidik. Mengingat tatapan Clara tadi bukan hanya tatapan cemburu, tapi seolah ingin menghapus Dina dari dunia ini. Dina menarik napas. 'Oke Dina, setahun ini bukan cuma soal nahan laper mi instan, tapi soal nahan nyawa biar nggak ilang.' "Siapa dia sebenarnya? Kelihatannya dia pengen nerkam saya hidup-hidup," tanya Dina setelah mereka agak jauh. "Mantan tunanganku. Hubungan kami berakhir buruk dua tahun lalu," jawab Aksa pendek. Dia terlihat sangat tidak nyaman. "Kelihatannya dia masih cinta tuh sama Bapak. Atau mungkin masih cinta sama limit kartu kredit Bapak," celetuk Dina, berusaha mencairkan suasana yang mendadak tegang. Aksa berhenti berjalan dan menatap Dina serius. Kali ini tatapannya tidak dingin, tapi penuh peringatan. "Jangan pernah berurusan sendirian dengannya, Dina. Clara bukan orang yang bisa diajak bercanda. Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau. Mengerti?" Dina terdiam. Dia melihat kilasan ketakutan—atau mungkin kekhawatiran—di mata Aksa. Dan itu membuatnya sadar bahwa pernikahan kontrak lima miliar ini baru saja berubah menjadi permainan bertahan hidup. "Iya, iya. Saya juga nggak minat kok temenan sama modelan ular kobra kayak gitu," jawab Dina. "Tapi sekarang, boleh saya minta minum? Tenggorokan saya kering gara-gara akting jadi istri bahagia." Aksa tidak menjawab, tapi dia langsung mengambilkan segelas air mineral dan memberikannya pada Dina. Tanpa mereka sadari, dari pojok ruangan, Clara sedang meremas gelas kristalnya sampai jemarinya memutih. "Tidak mungkin kau menikahi dia kan, Aksa? Aku yakin kalian tidak saling cinta. Karena kau hanya boleh mencintai aku," gumam Clara sangat lirih sampai hanya dia yang dengar. "Kita lihat, apa mainan barumu ini bisa bertahan hidup sampai bulan depan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN