Bab 4

1019 Kata
Guru etiket itu bernama Rosalia, tapi Dina lebih suka memanggilnya "Kak Ros". Karena memang semirip itu galaknya dengan "Kak Ros" Upin dan Ipin. Wanita itu duduk di sofa penthouse dengan punggung yang begitu tegak, seolah-olah ada besi beton yang ditanam di sepanjang tulang belakangnya. Rambutnya disanggul sangat kencang, sampai-sampai Dina khawatir alis Bu Rosa akan menyatu dengan garis rambutnya. Dina memandang gurunya dengan malas, "Apa semua sircle Pak Aksa macam patung semua? Astaga," suara batin Dina. "Nona Dina, kita tidak sedang berada di warung kopi. Tolong, letakkan cangkir teh itu tanpa suara," tegur Bu Rosa. Suaranya halus tapi juga menusuk, mirip suara ibu-ibu komplek yang lagi gosipin tetangga. Dina menatap cangkir porselen di tangannya dengan dongkol. "Ini sudah pelan sekali loh, Bu. Kalau lebih pelan lagi, ini cangkir malah nggak bakal nyentuh meja. Tapi melayang." Bu Rosa tidak tertawa. Dia bahkan tidak tersenyum. "Suara denting adalah tanda bahwa Anda tidak memiliki kontrol diri. Istri seorang Aksa Dwi Saputra tidak boleh membuat suara yang tidak perlu. Anda adalah perhiasan perusahaan, bukan peluit parkir." Dina mendengus, meletakkan cangkir itu dengan sangat hati-hati sampai tangannya gemetar. 'Perhiasan? Mata bapakmu! Udah berasa kayak barang rongsokan yang lagi dicat ulang biar laku mahal. Semua perlakuanku, semuanya dianggap salah di mata nenek sihir ini. Gila ya, demi lima miliar aku harus pura-pura jadi orang lain yang bahkan aku aja nggak kenal siapa.' "Sekarang, latihan cara berjalan," perintah Bu Rosa, berdiri dengan anggun. "Bayangkan ada buku di atas kepala Anda, dan bayangkan Anda sedang berjalan di atas sehelai benang sutra yang tipis." "Jangan menghentak! Dina, Anda bukan sedang ikut lomba lari karung." Rosa memijat pelipisnya, ketika Dina berdiri dari duduknya. Dina mencoba meniru gerakan Bu Rosa yang meluncur di atas marmer. Namun, baru tiga langkah, kakinya tersangkut karpet wol dan dia hampir terjungkal jika tidak berpegangan pada pinggiran meja makan. "Hah ... astaga. Bu, apa tidak bisa kita lewatkan bagian ini saja? Toh saya nanti paling cuma duduk manis di samping Mas CEO itu," keluh Dina, kembali menyebut Aksa dengan sebutan yang menurutnya lebih 'menyakiti' harga diri pria itu. "Penampilan adalah segalanya, Nona Dina. Orang-orang akan menilai Pak Aksa dari cara Anda membawa diri. Jika Anda terlihat seperti ... maaf, tukang pijat yang salah kostum, maka reputasi suami Anda bisa hancur," balas Bu Rosa telak, menggunakan kata-kata yang persis seperti yang diucapkan Aksa semalam. Dina terdiam. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia duga. Membuat telinganya jadi panas. "Begitu ya? Jadi saya ini cuma faktor penentu harga saham?" gumam Dina, kini nadanya tidak lagi bercanda. Pelajaran berlanjut selama tiga jam yang menyiksa. Dina diajari cara makan sup tanpa suara (yang menurutnya sangat mustahil kecuali supnya tidak dimakan), cara duduk dengan kaki menyilang yang benar (yang membuat kakinya kesemutan), hingga cara menyapa tamu dengan derajat yang berbeda. Saat Bu Rosa akhirnya pulang, Dina ambruk di atas sofa abu-abu yang dingin. Rasanya lebih melelahkan daripada naik tangga darurat sepuluh lantai. Beberapa saat kemudian, pintu lift berdenting. Aksa masuk dengan tas kerja di tangannya. Dia berhenti sejenak, melihat Dina yang terkapar tak berdaya dengan rambut yang sudah tidak karuan. "Bagaimana hari pertama Anda dengan Bu Rosa?" tanya Aksa, meletakkan tasnya di meja. Dina menatap langit-langit tanpa menoleh. "Luar biasa, Suami. Sekarang saya tahu cara minum teh tanpa menyinggung perasaan porselennya. Saya juga tahu kalau cara jalan saya selama dua puluh lima tahun ini dianggap sebagai tindak kriminal oleh guru Anda." Aksa berjalan mendekat, berdiri di dekat sofa. "Bu Rosa adalah yang terbaik di bidangnya. Dia bilang Anda cukup ... menantang." Dina bangkit duduk, menatap Aksa dengan mata menyipit. "Menantang itu bahasa halus dari 'berisik' dan 'kampungan', kan? Kenapa Bapak tidak sekalian saja suruh saya operasi plastik jadi robot biar makin pas dengan selera Bapak?" Aksa terdiam. Dia melihat ada kemarahan yang tertahan di mata Dina, juga sesuatu yang menyerupai rasa sakit yang disembunyikan di balik sarkasmenya. "Dina—" "Jangan panggil nama saya dengan nada kasihan begitu," potong Dina tajam. "Saya tahu posisi saya. Saya boneka lima miliar. Saya akan lakukan bagian saya. Saya akan jadi Nyonya CEO yang paling sempurna, paling palsu, dan paling membosankan di dunia. Bapak puas?" Dina berdiri, menyambar tasnya, dan berjalan menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban Aksa. Dia sempat mencoba berjalan seanggun mungkin, namun di langkah kelima, dia sengaja menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai marmer. BUK! BUK! BUK! Setiap hentakan itu adalah protes kecilnya pada dunia yang mencoba membungkamnya. Aksa terpaku di ruang tengah yang kini kembali sunyi. Ia menatap bekas langkah kaki Dina di lantai yang mengkilap. "Lantai ini terlalu bersih untuk menampung amarah sehebat itu." Aksa merasakan denyut aneh di dadanya. Keberanian Dina untuk menunjukkan luka justru membuatnya merasa semakin kecil di balik jas mahalnya. Ia sudah terbiasa dengan kepatuhan, dengan orang-orang yang mengecilkan suara demi menyenangkannya. Tapi Dina ... dia adalah badai yang tidak peduli seberapa mahal atap yang ia hancurkan. Aksa menghela napas, suaranya hilang ditelan luasnya penthouse. Di dalam kamar, Dina melempar dirinya ke atas kasur lipat. Dia mengambil ponselnya, mencari nama 'Gina', tapi kemudian ia urungkan. Dia tidak mau Gina tahu bahwa sahabatnya sedang belajar menjadi orang asing di hidupnya sendiri. Tiba-tiba, Dina teringat suara ibunya yang bergetar di ujung telepon, bukan karena takut, tapi karena sudah terlalu sering meminta maaf pada dunia. “Ibu nggak maksa kamu, Din ... kalau kamu nggak mau, ibu akan relakan rumah ini, satu-satunya peninggalan kakek. Tidak apa-apa ibu bapak tidur di kolong jembatan ....” Kalimat itu lebih kejam daripada ancaman debt collector mana pun. Mana mungkin Dina sebagai anak akan tega? Orang tuanya sudah membesarkannya selama dua puluh lima tahun ini. Lagi pula, jika Dina tak menerima kontrak itu, dia juga turut kehilangan tempat tinggal. Sebagai gantinya, Dina membuka aplikasi ojek online, hanya untuk melihat gambar-gambar makanan kaki lima yang kini terasa seperti mimpi yang sangat jauh. "Sabar, Dina," bisiknya pada diri sendiri di kegelapan kamar. "Hanya satu tahun. Setelah itu, kamu bisa lari sejauh mungkin dan makan mi instan kari ayam sepuasmu di pinggir pantai, atau makan tempe mendoan di pinggir danau," katanya menenangkan diri. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia bertanya-tanya: apakah setelah satu tahun dicetak menjadi orang lain, dia masih akan mengenali dirinya sendiri saat bercermin?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN