Pukul enam pagi di penthouse Aksa adalah definisi dari kesunyian yang menakutkan, karena bagi Dina, tempat itu tidak seperti rumah pada umumnya, melainkan seperti ruang tunggu rumah sakit . Tidak ada suara ayam berkokok, yang ada hanyalah suara mesin kopi otomatis seharga motor matik yang sedang bekerja dengan suara desisan yang sangat sopan.
Dina terbangun dengan perasaan bingung yang luar biasa. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar yang begitu tinggi dan putih, sampai dia mengira dirinya mungkin sudah meninggal dan masuk ke surga khusus orang kaya. Namun, rasa pegal di punggungnya segera mengingatkannya pada realitas: dia tidur di atas kasur lipat tambahan di lantai, tepat di samping ranjang raksasa Aksa.
"Sial!" desis Dina lirih, takut-takut orang lain mendengar. Semula Dina mengira Aksa yang akan mengalah tidur di sana.
"Bangun, Nona Dina. Tidur di lantai tidak akan membuat Anda menjadi duyung."
Suara itu rendah, berat, dan sama sekali tidak mengandung sisa-sisa kantuk. Dina menoleh dan mendapati Aksa sudah berdiri di samping ranjang, mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika sempurna bahkan sebelum matahari benar-benar muncul. Laki-laki itu sedang memasang jam tangan peraknya dengan ketelitian seorang dokter bedah.
"Hah ... jam berapa sih ini? Subuh saja baru lewat, Suami," gumam Dina, suaranya serak dan rambutnya mekar seperti singa yang baru saja tersetrum listrik.
"Pukul enam lewat sepuluh. Aris akan sampai dalam tiga puluh menit untuk mengantar Anda ke kelas etiket," jawab Aksa tanpa menoleh.
Dina langsung duduk tegak, mencoba mengumpulkan jiwanya yang masih tertinggal di mimpi makan mi instan semalam. "Kelas etiket? Anda serius? Saya ini manusia, Pak, bukan robot yang perlu di-instal ulang perangkat lunaknya." Dina mendesah malas.
Aksa berhenti sejenak, lalu menatap Dina melalui cermin besar di kamar itu. Tatapannya tajam, menilai penampilan Dina yang masih berantakan dengan piyama bergambar beruang kutub yang sudah pudar.
"Melihat penampilan Anda sekarang, saya rasa instalasi ulang itu memang sangat mendesak," sindir Aksa pedas, apalagi dengan tatapan matanya yang memicing itu.
Dina mendengus. "Piyama ini nyaman, tahu! Harganya cuma tiga lima ribu di pasar malam, tapi kehangatannya melebihi AC enam belas derajat Anda ini."
Aksa tidak membalas. Dia mengambil jasnya dan berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Dina, dengan rasa penasaran yang mengalahkan rasa kantuknya, segera menyambar ikat rambut dan mengekor di belakang Aksa.
Di meja makan, hanya ada dua gelas jus hijau yang warnanya terlihat seperti lumut kolam, dan dua piring kecil berisi potongan buah yang dipotong sama rata.
"Mana nasi gorengnya? Atau bubur ayam?" tanya Dina, wajahnya kecewa berat.
"Kita tidak mengonsumsi karbohidrat berlebih di pagi hari. Itu membuat otak lamban," sahut Aksa, menyesap kopi hitamnya yang aromanya sangat pahit—bahkan mungkin sepahit kenyataan hidup Dina.
Dina duduk di depan Aksa, menatap jus hijau itu dengan tatapan ngeri.
'Inikah harga dari lima miliar itu? Meminum sari pati rumput di dalam gedung pencakar langit, sementara hatiku meronta merindukan aroma nasi uduk pinggir jalan. Aksa benar-benar mahkluk luar angkasa! Aku pasti akan mati perlahan dalam keheningan yang mewah ini. Kesunyian ini ... ia merambat seperti akar hitam, melilit setiap inci kebebasanku.'
"Minum jus Anda, Dina. Jangan hanya menatapnya seolah itu adalah racun," perintah Aksa.
"Ini memang racun bagi selera saya, Suami," balas Dina, tapi tetap meminumnya dengan wajah meringis. "Bapak tahu, Pak? Hidup Bapak ini membosankan sekali. Apa Bapak pernah sekali saja ... entahlah, bangun siang lalu makan gorengan sambil nonton gosip?" Dina terus bicara sambil menahan rasa daun dari jus hijau itu.
Aksa meletakkan gelas kopinya. Gerakannya terlihat tenang, tapi ada ketegangan yang terlihat di rahangnya.
'Gosip? Gorengan?' Aksa memejamkan mata sejenak. Pikiran itu terasa asing, hampir seperti bahasa purba yang tak lagi ia pahami. Baginya, hidup adalah deretan angka yang harus stabil, dan setiap detik yang terbuang adalah celah bagi kegagalan. Ia teringat tatapan ayahnya dulu, tatapan yang dingin dan menuntut. Di dunia Aksa, kelemahan adalah dosa besar. Dan Dina ... perempuan ini adalah perwujudan dari segala hal yang seharusnya ia hindari, mulai dari kekacauan, keberisikan, dan kejujuran yang menyakitkan.
"Saya tidak punya waktu untuk hal-hal remeh seperti itu," kata Aksa akhirnya. Suaranya kini terdengar sedikit lebih berat, seolah ada beban yang tiba-tiba menindih pundaknya.
Dina berhenti mengunyah apelnya. Dia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari nada bicara Aksa. Laki-laki ini tidak hanya kaku, dia seolah-olah sedang menahan seluruh beban gedung ini di pundaknya sendiri.
"Bapak itu ... manusia, Pak. Bukan monumen," kata Dina, kali ini suaranya sedikit lebih lembut, kehilangan nada cerewetnya. Ia mengambil potongan buah lain yang tersedia di piring.
Aksa tertegun sejenak. Ia menatap Dina yang sedang makan dengan lahap di mejanya. Untuk pertama kalinya, tatapan mereka bertemu tanpa ada kontrak atau urusan uang di antaranya. Ada keheningan yang aneh di ruang makan itu, seperti perasaan-perasaan yang sudah lama mereka kubur yang kini muncul kembali.
Namun, momen itu pecah saat ponsel Aksa bergetar di atas meja. Nama 'Aris' muncul di layar. Aksa menggeser tombol hijau itu, tapi tidak menempelkan ponselnya ke telinga, ia menekan gambar speaker dan suara Aris terdengar menggelegar ke seluruh ruangan.
"Pak Aksa, saya sudah menunggu di bawah."
"Baik. Saya segera kesana." Aksa menekan tombol merah, lalu telepon itu mati.
Begitu telepon di tutup, Dina langsung mencibir, "Bapak sengaja ya? Saya masih bisa denger loh, nggak perlu di speaker segala."
"Aris sudah di bawah," kata Aksa, kembali ke mode robotnya dalam sekejap. Dia berdiri, merapikan jasnya yang sebenarnya sudah melipit rapi.
"Iya udah tahu." Dina memasang muka jutek. Sangat pas dengan wajah bantal dan rambut yang disanggul asal itu.
"Selesaikan sarapan Anda. Dan tolong, saat bertemu guru etiket nanti, jangan bahas soal mi instan kari ayam lagi. Saya tidak mau dia mengira saya menikahi pengungsi banjir yang kelaparan."
Dina melotot. "Suami kurang ajar!" teriaknya saat Aksa sudah melangkah menuju pintu.
Aksa tidak menoleh, tapi di sudut bibirnya, ada kedutan kecil yang hampir-hampir menyerupai sebuah senyuman.
Dina kembali menatap jus hijaunya. Dia menghela napas panjang.
"Satu tahun," gumamnya pada diri sendiri. "Tiga ratus enam puluh lima hari minum jus rumput dan menghadapi patung marmer itu. Tuhan, kuatkan iman dan lambungku."
Ia berjalan menuju jendela besar, melihat mobil mewah Aksa keluar dari area gedung. Dari ketinggian ini, Aksa terlihat begitu kecil, sama kecilnya dengan harapan Dina untuk bisa kabur dari perjanjian ini tanpa meninggalkan hatinya yang mulai berantakan.