Mobil Aksa bagai kamar hotel yang sunyi, mobilnya mewah, wangi, dengan kursi yang juga empuk seperti kasur.
Dina duduk di kursi belakang, sendirian, ia dipisahkan oleh sekat kaca yang membatasi penglihatan. Di kursi depan, ada Aksa si patung kaku, pria itu sedang sibuk dengan ponselnya, dan asistennya yang juga terlihat seperti patung lilin.
Sepanjang perjalanan, Dina hanya bisa menatap jalanan Jakarta yang macet dan sesekali menghela napas pelan agar Sang Patung Kaku itu tak mendengarnya.
"Bapak tahu, Pak?" kata Dina, mencoba memecahkan keheningan yang mematikan itu.
Aksa hanya menggumam pelan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. "Hm?"
"Saya tidak tahu mana yang lebih menyedihkan: hidup miskin tapi bebas memakan mi instan kari ayam, atau kaya raya tapi harus menikah dengan diktator yang alergi bumbu sasetan," lanjut Dina, nada suaranya dibuat seolah dia sedang merenungkan filosofi hidup yang mendalam.
"UHUK!" Asisten Aksa, yang bernama Aris, seketika batuk keras. Aksa akhirnya menoleh, tatapannya datar dan tidak bisa diajak bercanda. Dina paham, Aris sangat sengaja melakukan itu.
"Jika Anda ingin bicara, Nona Dina, silakan bicara hal yang substansial. Bukan tentang preferensi kuliner yang tidak relevan," ujar Aksa.
Dina mengangkat bahu. "Justru ini sangat substansial, Suami. Karena larangan mi instan Anda itu melambangkan pengekangan hak asasi saya. Lima miliar tidak membeli seluruh kepatuhan saya, lho."
"Lima miliar membeli keluarga Anda dari kehancuran finansial. Itu membeli kemitraan bisnis saya. Dan saya tidak ingin Anda merusak merek saya dengan aroma mi instan," tegas Aksa, kembali menatap ponselnya.
'Dasar laki-laki ini. Mungkin selama ini dia hidup di dimensi lain atau planet Uranus, sih? Di mana kebebasan adalah barang yang bisa dibeli, dan cinta adalah sekadar perjanjian di atas materai. Aku curiga, apakah dia pernah ngrasa kelaparan? Atau apakah dia selalu sempurna sejak lahir? Betapa menyedihkannya menjadi manusia yang tidak pernah merasa perlu untuk memeluk bantal saat menangis,' ujar Dina dalam diam.
Perjalanan berakhir di depan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, dengan kaca-kaca gelap yang memantulkan bayangan langit Jakarta. Aksa dan Dina dibawa melalui lift pribadi yang langsung mengantar mereka ke lantai teratas.
Saat pintu lift terbuka.
"Selamat datang di kediaman Anda, Nyonya Aksa," kata Aris, asisten itu, kini berhasil tersenyum. Tangannya mengulur ke depan, mempersilakan Aksa dan Dina untuk melangkah duluan.
Dina melangkah keluar, dan seketika ia merasa seperti alien yang baru mendarat di planet asing. Penthouse itu luar biasa. Langit-langit tinggi, dinding kaca di mana-mana yang memperlihatkan view kota yang spektakuler. Lantai marmer dingin, dengan furnitur minimalis berwarna monokrom.
"Ini ... seperti kuburan yang mewah" gumam Dina, sambil berjalan ke jendela raksasa.
"Ini adalah penthouse yang dirancang untuk kenyamanan Anda, Nona Dina," kata Aksa mengoreksi, kini berjalan mendahuluinya, meletakkan kunci di meja konsol. "Anda akan tinggal di sini selama satu tahun. Anda punya akses ke semua fasilitas. Aris akan mengurus koper Anda. Dan saya harus segera kembali ke kantor."
"Tunggu dulu, Suami," kata Dina. "Ini namanya penipuan. Anda bilang saya akan tinggal di penthouse yang Anda sediakan. Tapi Anda tidak bilang penthouse ini isinya seperti pajangan di museum. Mana vibe rumahnya?"
Aksa membalikkan badan, kedua tangannya terlipat di d**a. Perempuan satu ini sangat cerewet, benar-benar cocok dijuluki 'kipas angin rusak.'
"Apa lagi masalahnya?"
"Masalahnya adalah, tidak ada satu pun barang di sini yang tidak berwarna putih, abu-abu, atau hitam. Di mana warna pop? Di mana kehidupan? Saya butuh bantal warna neon untuk mengurangi kesan bahwa saya sedang menunggu di ruang tunggu kuburan," protes Dina, menunjuk sofa abu-abu yang terlihat paling menonjol.
Aksa menghela napas panjang, 'kipas angin rusak itu.'
"Anda harus beradaptasi, Nona Dina. Estetika tempat ini adalah sebuah ketenangan. Anda bisa membeli bantal neon jika itu sangat penting," katanya.
Dina memutar bola matanya. "Bukan masalah beli, Suami. Masalahnya adalah jiwa tempat ini. Dan juga tata letak barang-barangnya," kata Dina, kini berjalan ke arah kamar tidur utama.
Lagi-lagi, dahi Dina mengerut. Kamar tidur itu sama-sama minimalis. Ada ranjang besar yang dihiasi seprai putih bersih. Di sebelah ranjang, ada meja kerja yang juga putih, dengan satu lampu baca yang desainnya kaku.
Dina menatap Aksa. "Kamar tidur ini ada dua?"
"Hanya satu," jawab Aksa. "Sesuai klausul 8.A, kita mungkin sewaktu-waktu harus tampil sebagai pasangan yang utuh di hadapan publik atau pers yang mungkin mengambil foto tanpa izin. Kita harus tidur di kamar yang sama untuk menjaga formalitas."
Dina tersenyum sinis. "Ah, klausul keromantisan palsu. Jadi, lima miliar ini termasuk co-sleeping dengan patung marmer? Hebat." Dina bertepuk tangan dalam hati.
"Ini demi kenyamanan Anda, Nona Dina. Dan juga profesionalitas," Aksa menjelaskan, berjalan ke arah kamar mandi. "Saya sudah mengatur jadwal harian Anda, yang mencakup waktu berdandan, olahraga, dan kelas etiket. Anda harus mulai besok pagi."
Dina tidak mendengarkan jadwal kaku itu. Matanya terpaku pada ranjang. Ranjang itu terlalu lebar. Tidur sendirian di sana, akan terasa seperti tidur di lapangan bandara.
"Oke, Aksa," panggil Dina, menggunakan nama depannya yang terkesan intim. "Kita harus bicara serius tentang ranjang ini."
Aksa keluar dari kamar mandi, wajahnya menunjukkan kebosanan. "Apa lagi?"
"Ranjang ini terlalu besar! Saya takut. Bagaimana kalau malam-malam saya berjalan sambil tidur, lalu tanpa sengaja saya menyentuh kaki Anda? Itu pasti melanggar klausul kebersihan pribadi," kata Dina, wajahnya dibuat serius.
"Itu tidak mungkin," jawab Aksa. "Ranjang ini lebih dari cukup besar. Kita bisa tidur dengan jarak satu meter di tengah. Itu aman."
Dina berjalan mendekat. "Tidak aman. Saya perlu pagar pembatas, Pak. Atau, bed cover warna-warni yang membedakan area Anda dan area saya. Anggap saja ini perbatasan negara, dan kita tidak boleh menginjak wilayah musuh."
Aksa menatap Dina, dan Dina melihat ada sesuatu yang berkedip di mata Aksa. Bukan marah, tapi ... terkejut.
'Dia tidak tahu bagaimana menghadapi manusia yang tidak bisa diatur. Dia hanya tahu cara menghadapi Excel dan saham. Di dimensi dia, semua orang pasti nurut. Di dimensi dia, tidak ada yang berani protes soal ranjang. Kesepiannya menjerit di antara lapisan jas mahal itu. Aku harus terus menusuknya dengan omongan konyol, agar dia tidak menyadari betapa sedihnya aku menjual diriku. Sepertinya tidak salah kalau dia berasal dari Neptunus.'
"Anda tahu, Nona Dina," kata Aksa, setelah hening beberapa saat. "Saya mulai menyesali keputusan ini."
"Terlambat, Suami," jawab Dina dengan tawa kecil. "Kontrak sudah ditandatangani. Anda tidak bisa membatalkannya hanya karena istri kontrak Anda protes soal ukuran ranjang."
Aksa menghela napas. Dia mengambil kunci mobilnya kembali.
"Saya akan meminta Aris mengirimkan kasur tipis tambahan. Anda bisa meletakkannya di lantai. Anggap saja itu camp-out yang mahal," kata Aksa, menyerah.
"Nah, itu baru solutif!" seru Dina menjentikkan jari. "Terima kasih, Suami. Sekarang pergilah. Saya harus menelepon seseorang dan memberitahu bahwa saya baru saja berhasil mendapatkan izin tidur di lantai penthouse Anda."
Aksa menatapnya sekali lagi, tatapan yang kini terasa sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
"Jangan pernah melupakan batasannya, Nona Dina," bisiknya, sebelum berbalik dan menghilang keluar dari kamar.
Dina berjalan ke jendela kaca besar, menatap ke bawah. Kota ini terlihat seperti miniatur mainan. Dia adalah Nyonya Aksa, terkurung di sangkar emas.
Dina mengeluarkan ponselnya. Dia harus menghubungi seseorang untuk mencurahkan semua kegilaan ini. Tapi siapa? Gina sedang disibukkan WO-nya.
Dia menatap ponselnya, lalu tersenyum kecil.
"Baiklah, Aksa. Kamu pikir kamu bisa membatasi jiwaku dengan larangan mi instan dan bed cover putih? Mari kita lihat siapa yang akan jadi gila duluan di penthouse ini."