Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar. Aris masuk dengan ekspresi tegang. "Pak ... Nona Clara ada di depan. Dia membawa bunga dan ... dia menangis." Dina merasakan genggaman tangan Aksa mengeras seketika. Sudut bibir pria itu terangkat sedikit, membentuk seringai yang lebih dingin dari es manapun yang pernah Dina lihat. "Biarkan dia masuk," ucap Aksa rendah, matanya menyimpan kemarahan di balik kacamata kotaknya. 'Saya ingin melihat seberapa hebat dia bersandiwara di depan mangsanya,' batin Aksa bergemuruh. Pintu ruang VIP itu terbuka perlahan. Seorang gadis cantik dengan wajah yang pucat pasi datang. Di tangannya ada sebuket bunga lily putih yang masih berembun. Gadis cantik itu tidak langsung masuk, ia berdiri mematung di ambang pintu, menatap Dina dengan ekspresi terkejut. "Aks

