Bab 19

1186 Kata

Pukul empat pagi. Suasana ICU masih sedingin es. Aksa berdiri di sudut ruangan, menatap bayangan dirinya di kaca jendela yang gelap. Jas mahalnya sudah tergeletak mengenaskan di lantai, dasinya entah hilang ke mana. ​Pintu terbuka pelan. Aris masuk dengan langkah yang diredam. "Pak, Kepala Dokter sudah di luar. Beliau ingin memberikan laporan perkembangan Nona Dina." ​Aksa berbalik. Matanya yang merah bukan karena kelelahan, melainkan kemarahan yang tertahan. Ia melangkah keluar ruangan menemui dokter spesialis yang sudah berkeringat dingin meski AC rumah sakit sedang kencang-kencangnya. ​"Jelaskan," perintah Aksa singkat. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang nyata. ​"K-kondisi pasien sudah stabil, Pak Aksa. Ventilator sudah bisa dilepas dalam satu jam ke depan. Reaksi alerg

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN