Restoran mewah itu mendadak terasa seperti medan perang yang sunyi. Aksa tidak memedulikan tatapan menghakimi atau bisik-bisik dari para sosialita yang merasa makan malam tenang mereka terganggu. Ia hanya melihat satu hal: wajah Dina yang mulai membiru, dengan bibir yang sedikit membengkak, berjuang meraup oksigen yang seolah hilang dari atmosfer. "Buka jalan!" teriak Aksa dengan suara bariton yang menggelegar, meruntuhkan keheningan The Gilded Plate. Ia menggendong Dina, merasakan tubuh gadis itu yang biasanya lincah kini terasa berat dan terkulai. Begitu mencapai lobi, Aris sudah menyiagakan mobil dengan pintu terbuka. Aksa melompat ke kursi belakang, tetap mendekap Dina di pangkuannya. "Rumah sakit terdekat! Sekarang, Ris! Langgar semua lampu merah!" raung Aksa. Mobil melesat me

