Aksa tidak tidur malam itu. Di ruang kontrol pribadinya yang kedap suara, ia menatap barisan layar monitor dengan mata merah yang menyala. Di depannya, Aris baru saja menyelesaikan instalasi sistem keamanan terbaru. "Sudah aktif semua, Pak. Termasuk ... yang di dalam kamar Nona Dina. Posisinya tersembunyi di balik bingkai lukisan di sudut atas," lapor Aris dengan suara rendah, seolah merasa bersalah. Tetapi ia segera mengembalikan pesona profesionalismenya. "Bagus. Saya tidak percaya lagi pada pengamanan luar. Musuh kita sudah masuk ke dalam sirkulasi udara," ucap Aksa dingin. Ia mengabaikan nuraninya yang membisikkan kata 'privasi'. Baginya, Dina yang hidup jauh lebih penting daripada Dina yang marah. Aris keluar, meninggalkan Aksa sendirian di depan layar. Aksa menyesap kopi hitamn

