Alunan musik orchestra yang megah memenuhi aula Grand Majestic, namun bagi Dina, suara itu terdengar seperti dengung lebah yang membuat kepalanya pening. Ia masih berusaha mencerna kata-kata Aksa di depan pintu tadi. "Pak Suami ... Bapak nggak bercanda kan? Mbak saus sambal itu beneran mau bikin saya jadi almarhum?" bisik Dina saat mereka berdiri di dekat meja prasmanan yang penuh dengan makanan cantik yang tidak berani ia sentuh. Aksa menyesap minumannya, matanya tetap waspada memantau sekeliling. "Saya tidak pernah bercanda soal nyawa, Dina. Terutama nyawa yang sudah saya beli mahal." Dina baru saja akan membalas dengan kalimat sarkastik saat tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin dan lengket mengguyur punggung hingga sisi gaun birunya. Byurr! "Ups! My bad," suara melengkin

