Aksa keluar dari kamar dengan langkah lebar, meninggalkan Dina yang masih memegangi dadanya yang berdegup kencang. Di lorong hotel yang sunyi, Aksa menyandarkan punggungnya di dinding, menatap langit-langit dengan napas yang masih belum beraturan. "Lelaki macam apa yang bisa kalah hanya karena selembar kain tipis," gerutu Aksa pada dirinya sendiri, sementara bayangan punggung Dina masih menari-nari dengan menggoda di pelupuk matanya. Di dalam kamar, Dina sedang dibantu oleh seorang pelayan wanita yang dibawa Aris untuk mengenakan gaun baru. Aris sendiri berdiri di depan pintu, menjaga keamanan sesuai instruksi bosnya. Di lorong hotel yang sunyi, Aksa masih berusaha mengatur napasnya. Matanya terpejam, mencoba menghapus bayangan punggung Dina yang terbalut kain putih tipis tadi. Namun,

