Bab 9

1438 Kata
Pagi setelah kejadian di ruang kerja itu menyisakan atmosfer yang aneh di dalam penthouse. Tidak ada lagi teriakan soal aroma mi instan, dan tidak ada lagi perintah dingin yang tidak masuk akal. Aksa berangkat ke kantor lebih awal, namun ia sempat meninggalkan sebuah catatan pendek di atas meja makan: “Gaunmu akan sampai jam sepuluh. Pastikan Aris memeriksanya sebelum kamu membukanya.” ​Dina menatap catatan itu sambil mengunyah roti gandum tawar yang menurutnya rasanya mirip kardus basah. Ia mendengus kecil, namun ada sedikit lengkungan di sudut bibirnya yang sulit ia sembunyikan. ​'Cih, sok perhatian. Padahal palingan dia cuma takut kontrak lima miliarnya rugi kalau istrinya kelihatan gembel di acara perusahaan,' batin Dina mencoba menenangkan detak jantungnya yang mendadak tidak disiplin. ​Tepat jam sepuluh, bel pintu berdenting. Aris masuk membawa sebuah kotak besar berwarna hitam dengan pita emas yang elegan. Wajah Aris tampak waspada, ia memeriksa segel kotak itu dengan teliti sebelum menyerahkannya kepada Dina yang sudah menunggu dengan antusias di ruang tengah. ​"Sudah aman, Nona Dina. Saya sudah memeriksa kurirnya secara langsung," lapor Aris sopan. ​"Makasih, Mas Aris. Duh, jadi deg-degan. Ini pasti gaun yang harganya bisa buat beli sawah sekecamatan ya?" seloroh Dina, mencoba mencairkan ketegangan Aris yang terlalu kaku. ​Aris hanya tersenyum tipis lalu pamit untuk berjaga di depan lift. Dina membawa kotak itu ke dalam kamar. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa penasaran, ia mulai membuka pitanya. ​Namun, begitu tutup kotak itu terbuka, aroma yang keluar bukanlah aroma kain baru atau parfum mewah. Melainkan aroma yang sangat aneh. "Huek. Ini bau apaan sih?" Dina menahan rasa mualnya, baunya benar-benar seperti sampah. Dina melihat ke dalam kotak itu sambil menutup hidungnya dengan kerah baju yang dipakainya, ​matanya membelalak, di antara lipatan sutra biru safir yang hancur, terselip potongan-potongan daging merah yang mulai menghitam dan membusuk. Belasan makhluk kecil berwarna putih menggeliat di sela-selanya, mengeluarkan cairan yang merusak serat kain mahal itu. ​"Huek..." Dina mundur, lambungnya bergejolak hebat. Bau kematian itu seolah menempel di langit-langit mulutnya. ​Dina mematung, wajahnya mendadak pucat. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak terasa lemas. Di dalam kotak itu, gaun sutra berwarna biru safir yang kemarin ia fitting dengan penuh rasa bangga, kini tampak seperti bangkai. Kainnya sobek-sobek secara kasar, seolah-olah ada seseorang yang menggunakan silet untuk mencabik-cabiknya dengan penuh kebencian. ​Dan tepat di atas tumpukan kain hancur itu, terselip sebuah foto. Meski geli dan takut, Dina memungut foto itu dengan ujung jari yang dingin. Itu adalah foto dirinya yang diambil secara candid saat ia sedang berjalan di area parkir butik kemarin. Di foto itu, wajah Dina dilingkari dengan spidol merah, dan di bagian lehernya ada garis horizontal panjang—seolah sedang dii ggoo rrookk. ​Di balik foto itu, tertulis sebuah kalimat dengan tinta merah yang berbau amis: "Bunga yang indah harus tetap di tempatnya, atau dia akan membusuk jika dipaksa masuk ke vas yang salah." ​Dina menjatuhkan foto itu. Napasnya tercekat di tenggorokan, matanya melebar menatap gaun yang hancur itu.Tubuhnya gemetar, ia mundur beberapa langkah sampai punggungnya menabrak dinding yang dingin. ​Kegelapan itu tidak lagi mengetuk pintu; ia sudah merayap masuk ke dalam ruang pribadi Dina. Gadis itu merasa seperti mangsa yang sedang diamati dari balik semak-semak, menunggu saat yang tepat untuk diterkam. 'Siapa pengirim ini? Apakah wanita ular semalam? Ataukah ada hantu lain dari masa lalu Aksa yang tidak aku ketahui?' pikir Dina mulai panik. Kalimat pada catatan itu menganggapnya sampah yang sedang menyamar jadi berlian. Dina merasa telanjang, merasa setiap gerak-geriknya sedang ditertawakan oleh sepasang mata yang penuh kebencian. 'Kenapa duniaku yang sederhana harus berubah menjadi labirin ketakutan seperti ini? Aku hanya ingin menyelamatkan ibuku, tapi kenapa rasanya aku sedang menyerahkan nyawaku sendiri ke algojo?' ​Dina merosot jatuh ke lantai, memeluk lututnya sendiri, menggigiti ujung jari tangannya, tubuhnya meringkuk gemetar sambil menatap kotak itu. Aroma busuk isi kotak itu memenuhi paru-parunya, membuatnya mual. Ia ingin menelepon Aksa, ia ingin berteriak, tapi lidahnya terasa kelu. "Nona Dina, bagaimana dengan gaunnya? Saya harus memfoto Anda yang memakai gaun itu untuk saya tunjukkan ke Pak Aksa." Suara Aris menggema di balik pintu. Dina tidak menjawab. Dia masih terpaku, memeluk lututnya dengan tubuh gemetar. Detik berikutnya, pintu terbuka pelan. Aris masuk, namun langkahnya langsung terhenti. Aroma busuk itu menyergapnya. ​Aris tidak panik. Dia tidak memanggil tim keamanan dengan berteriak. Dia hanya terdiam sejenak, menatap kotak itu dengan tatapan tajam, lalu segera beralih pada Dina yang tampak hancur di lantai. ​"Nona Dina ... Anda tidak apa-apa?" Suara Aris merendah, penuh rasa prihatin. Ia segera berjalan menghampiri Dina, berdiri di antara Dina dan kotak busuk itu—seolah-olah tubuhnya adalah tameng agar Dina tidak perlu melihat benda mengerikan itu lagi. ​"Jangan dilihat lagi, Nona. Tarik napas pelan-pelan," ucap Aris lembut namun tegas. Ia mengeluarkan ponselnya tanpa suara, mengirim satu pesan singkat pada seseorang, lalu kembali fokus pada Dina. ​"Maafkan kelalaian saya. Saya akan membereskan ini. Mari, saya bantu Anda pindah ke ruang tengah," katanya sambil menawarkan tangan untuk membantu Dina berdiri, tanpa menyentuh bagian pribadi. "Tenang saja, Nona. Tidak perlu takut," kata Aris lagi sambil melangkah keluar. *** ​Dua puluh menit kemudian, pintu lift pribadi terbuka dengan hentakan keras. Aksa melangkah masuk dengan aura yang begitu gelap sampai-sampai udara di ruangan itu seolah membeku. Aris rupanya sudah melaporkan sabotase itu. ​Aksa langsung menuju kamar. Langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat Dina yang duduk meringkuk di lantai. Matanya beralih ke kotak di atas ranjang. Begitu indra penciumannya menangkap aroma daging busuk itu, tubuh Aksa menegang. Wajahnya yang semula memerah karena amarah, mendadak memucat. Perut Aksa ikut mual dan hampir muntah. ​Aksa melangkah mendekat, lalu berlutut di depan Dina. Ia tidak peduli jika tindakannya ini melanggar semua aturan "jaga jarak" yang ia buat sendiri. Ia memegang kedua bahu Dina dengan kuat, memaksa gadis itu untuk menatapnya. ​"Siapa, Pak? Siapa yang kirim ini?" tanya Dina dengan suara serak, air matanya mulai luruh. "Apa ini mantan Bapak? Kenapa dia tahu saya di mana? Kenapa dia tahu apa yang saya pakai?" ​Aksa tidak menjawab. Rahangnya mengeras sampai tulang-tulangnya menonjol di balik kulit wajahnya yang pucat. Ia melihat foto di lantai—foto Dina yang "lehernya digo rrok" dengan tinta merah. ​"Dina, dengar saya," suara Aksa rendah dan berbahaya, jenis suara yang digunakan seorang predator saat sedang mengincar lawan. "Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Anda. Siapa pun itu. Ini bukan lagi soal kontrak. Ini soal wilayah saya yang sudah diganggu." ​Aksa menarik Dina ke dalam pelukannya. Pelukan yang meski kaku, namun di sana ada sebuah keputusasaan untuk melindungi yang tak bisa ia sembunyikan. Dina bisa merasakan detak jantung Aksa yang liar di balik kemeja mahalnya. Dia tidak memberi Dina jawaban, tetapi diamnya Aksa terasa lebih menyeramkan daripada ribuan ancaman. Manusia Marmer itu tahu sesuatu yang tidak Dina ketahui. Dina memejamkan matanya, membenamkan wajahnya ke dalam d**a bidang Aksa. Pelukan itu terasa seperti benteng yang sedang dibangun terburu-buru di tengah peperangan. Aksa adalah pria yang hancur, namun ia mencoba menjadi utuh demi melindungi seseorang yang lebih hancur. Aroma kayu cendana Aksa kini bertarung melawan bau busuk dari kotak itu, dan untuk pertama kalinya, Dina menyadari bahwa pria ini jauh lebih berbahaya daripada si pengirim teror. Siapa pun yang mencoba menjadi ular kobra, maka Aksa adalah kegelapan yang menelan ular itu bulat-bulat. ​Aksa melepaskan pelukannya, lalu berdiri. Ia menatap kotak itu dengan tatapan mematikan. "Aris! Bawa benda ini ke laboratorium forensik pribadi saya. Saya mau sidik jari, jejak digital kurir, dan asal bangkai ini dalam dua jam." ​"Baik, Pak," sahut Aris cepat, langsung membereskan kotak terkutuk itu. ​Setelah Aris pergi, kamar kembali hening. Dina berdiri dengan kaki lemas, menghapus sisa air mata di pipinya. "Pak ... pestanya gimana? Saya nggak punya baju lagi. Apa ini pertanda kalau saya harus mundur aja? Saya takut, Pak. Uang lima miliar nggak ada gunanya kalau saya mati." ​Aksa berbalik, menatap Dina dengan intensitas yang membuat gadis itu terkesiap. Ia mendekat, memangkas jarak sampai Dina bisa merasakan hawa panas dari tubuh Aksa. ​"Mundur bukan pilihan bagi Anda, Dina. Dan mati ... itu adalah hal terakhir yang akan terjadi pada Anda selama Anda berada di bawah perlindungan saya," ucap Aksa telak. "Saya sudah memesan gaun lain. Kali ini, saya sendiri yang akan membawanya pulang. Tidak akan ada tangan asing yang menyentuhnya." ​Dina menelan ludah. "Bapak tahu siapa pelakunya, kan? Bapak tahu tapi nggak bilang ke saya." ​Aksa terdiam cukup lama, matanya menatap tajam ke arah jendela. "Dunia saya penuh dengan orang yang ingin melihat saya hancur, Dina. Pelakunya bisa siapa saja. Tapi siapa pun dia ... dia baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN