Bab 29

1220 Kata

​Malam semakin larut. Di luar sana, Jakarta masih sibuk dengan kelap-kelip lampu kendaraan yang merayap di jalanan layaknya barisan semut api. ​Aksa berdiri di balkon ruang kerjanya. Jasnya sudah tergeletak entah di mana, menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya sudah dibuka. Lengan kemejanya digulung sampai siku, memperlihatkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia memegang segelas kopi yang sudah mendingin sejak satu jam yang lalu, tapi ia tidak berniat membuangnya. ​Pikirannya sedang tidak bisa diajak bekerja sama. Seharusnya ia memeriksa laporan keuangan anak perusahaan di Singapura, tapi yang terbayang di kepalanya justru helai rambut hitam Dina yang tadi siang jatuh tergerai di jarinya. ​Ia menunduk, menatap ujung jemarinya sendiri. Masih ada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN