"Bu ... ini ambil lagi martabaknya," Bagas menawarkan martabak yang tersisa tiga potong pada Ibu Sarah dengan senyum yang tulus kecuali bagi Aksa. Wanita paruh baya itu segera mengambil sepotong, mengunyahnya dengan nikmat. "Makasih ya, Bagas. Kamu memang paling tahu cara meredakan emosi Ibu," puji Sarah, matanya melirik sinis ke arah Aksa. "Tidak seperti orang kaya itu. Datang-datang cuma bawa badan dan masalah. Dikit-dikit bikin tensi tinggi. Kalau begini terus, Ibu bisa cepat mati." Aksa merasa harga dirinya sedang digiling di bawah roda motor butut Bagas. Pemandangan Bagas yang menahan senyum kemenangan sungguh menyayat hatinya lebih dalam daripada kerugian saham mana pun. 'Cih ... apa yang bisa dibanggakan dari lelaki biasa seperti dia?' Aksa mengepalkan tangannya erat di bawah
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


