Bab 49

1231 Kata

Aksa Adiguna keluar dari kamar dengan langkah yang berat dan kaku. Setiap gerakannya terasa asing. Sarung kotak-kotak milik almarhum ayah Dina itu terasa kasar di kulitnya, dan ia harus memegang ujungnya dengan erat agar tidak melorot. Ini adalah sebuah penghinaan bagi pria yang biasanya hanya mengenal ikat pinggang kulit buatan Italia. Dan juga kaos oblong putih pemberian Bagas itu terlalu menempel di dadanya, memperlihatkan setiap tarikan napasnya yang tidak beraturan. Tubuh atletisnya pun turut tercetak jelas di kaos ketat itu. ​"Nah, gitu dong. Kelihatan seperti manusia, bukan seperti manekin toko," celetuk Ibu Sarah. Beliau sedang duduk di kursi jengki tua, menatap Aksa dengan tatapan yang seolah sedang menilai barang jualan di pasar. ​Aksa tidak menyahut. Ia berjalan menuju ruang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN