Aksa tidak berlari memeluk Dina. Ia tetap diam di depan pagar bambu itu, membiarkan kakinya yang pegal menopang tubuhnya yang hampir ambruk. Ia menatap Dina dengan mata tajam yang kini tampak basah, entah karena keringat atau emosi yang sudah tidak sanggup ia bendung. "Saya sudah menempuh ratusan kilometer dengan mobil sampah ini," suara Aksa terdengar berat dan penuh tuntutan. "Saya sudah dihina temanmu, mencuci motor, dan mengantar galon hanya untuk berdiri di sini." Aksa maju satu langkah, tangannya mencengkeram pagar bambu yang rapuh itu. "Jadi jangan harap saya akan pergi sebelum kamu masuk ke mobil itu sekarang, Dina. Kontrak itu mungkin sudah hancur, tapi kamu tidak punya hak untuk menghancurkan saya dengan cara pergi seperti ini. Masuk, atau saya akan berdiri di sini sampai desa

