Aksa Adiguna menatap pantulan dirinya di kaca jendela mobil Avanza sewaan yang bodinya sudah mulai bergetar jika dipacu di atas delapan puluh kilometer per jam. Ia mengenakan kaos oblong hitam polos yang ia beli di rest area dan celana kain yang ukurannya sedikit terlalu longgar di pinggang. Satu-satunya hal yang tersisa dari kemewahannya hanyalah sepasang sneakers putih yang kini mulai ternoda debu jalanan lintas provinsi. "Bren gsek," umpat Aksa saat ban mobilnya menghantam lubang yang cukup dalam, membuat kepalanya terbentur langit-langit mobil. Ia sudah menyetir selama hampir tujuh jam, mengandalkan petunjuk samar dari intelijen Aris yang menyebutkan bahwa Bagas memiliki kerabat yang mengelola bengkel di sebuah kecamatan kecil di perbatasan Jawa Tengah. Tangannya yang biasa menggengg

