Kantor pusat Adiguna Group yang biasanya sedingin es, kini terasa seperti ruangan interogasi yang menyesakkan. Sudah tiga hari Aksa tidak pulang. Yang ia lakukan hanyalah tidur atau lebih tepatnya memejamkan mata sejenak di sofa ruang kerjanya. Kemeja putihnya sudah kusut, dua kancing atasnya terbuka, dan bayangan janggut tipis mulai muncul di rahangnya yang biasanya selalu di cukur bersih. Aksa duduk di kursi kebesarannya, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan kemacetan Jakarta. Di atas meja jati itu, dua robekan kertas yang sudah mengeras karena kering berada di depannya. Itu adalah salinan kontrak miliknya, dan sisa-sisa robekan milik Dina yang sempat ia pungut dari lumpur kemarin. Dua lembar kertas yang dulu ia banggakan sebagai "kesepakatan bisnis terbaik", kini ha

