Bab 45

1031 Kata

​"Benar kata Bapak semalam, Bu," bisik Dina lirih. "Saya cuma cemburu pada hal yang memang bukan milik saya. Kontrak itu memang sudah selesai. Dan sepertinya, Bapak sudah mendapatkan pengganti pajangan yang lebih mahal." ​Dina berjalan menuju kamarnya yang gelap. Di dalam kesunyian kamar itu, ia menatap foto Aksa dan dirinya yang sedang berpose di mall, yang ia simpan di bawah bantal. Ia mengambilnya, meremas kertas itu hingga hancur di genggamannya. ​Di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah jendela, Dina menyadari bahwa ia baru saja menyelesaikan perannya sebagai figuran dalam film besar Aksa Adiguna. Ia merasa seperti selembar tisu yang digunakan untuk menghapus air mata lalu dibuang begitu saja. Rasa sakit ini bukan lagi tentang uang, bukan tentang status, tapi tentang sebuah harap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN