Bab 44

1251 Kata

Cahaya lampu gantung kristal di ruang makan kediaman utama keluarga Adiguna malam itu tampak jauh lebih menyilaukan dari biasanya. Harum masakan khas Prancis memenuhi udara, namun bagi Aksa, aroma itu tidak lebih baik daripada bau asap knalpot motor bebek di gang sempit semalam. ​Aksa duduk di kursi kehormatannya dengan wajah sedingin es. Di hadapannya, sang Ayah, Baskoro Adiguna, sedang menyesap anggur merahnya dengan perlahan. Sementara di samping Baskoro, Valerie duduk dengan senyum paling santun yang pernah ia miliki, seolah insiden memalukan di bar tempo hari tidak pernah terjadi. ​"Jadi, Valerie bilang istrimu itu sedang pulang ke rumah ibunya?" tanya Baskoro, suaranya berat dan penuh selidik. "Kenapa begitu mendadak? Padahal Ibu sudah menyiapkan perhiasan keluarga untuk menyambutn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN