tujuh

1167 Kata
Setelah sarapan yang mereka makan tanpa banyak bicara, karena Reina masih canggung dan Yoga terlalu santai. Setelahnya mereka pun bersiap. Reina kembali memakai bajunya dengan cepat, lalu mengikat rambutnya yang kusut. Tak ada ciuman perpisahan, tak ada pelukan mesra. Hanya satu kalimat singkat dari Reina, "Makasih ya, udah nemenin." Yoga mengangguk. "Iya, sama-sama. Aku antar kamu pulang." Di dalam mobil, perjalanan ke kos Reina keduanya hanya diam. Hanya suara kendaraan dan radio yang pelan terdengar mengisi perjalanan mereka. Reina duduk memandangi jendela, menatap trotoar dan gedung-gedung yang mereka lewati dengan kepala penuh pikiran. Begitu mobil berhenti di depan rumah kos yang kecil, Reina membuka pintu dan menoleh ke Yoga. "Thanks, kamu hati-hati ya di jalan." Yoga hanya menatap. "Kalau kamu butuh sesuatu, kabarin aku." Reina mengangguk lalu masuk ke dalam pagar kos, meninggalkan Yoga sendiri di mobil. *** Begitu sampai di rumah, Yoga masuk dan langsung melemparkan kunci ke meja kecil di ruang tamu. Ia tidak melepas sepatu, hanya berjalan ke ruang kerja dan duduk di kursi kerjanya yang sudah mulai usang karena terlalu sering diduduki. Layar laptop menyala dari mode tidur, dan menampilkan dokumen-dokumen yang belum ia sentuh sejak kemarin. Yoga menatap layar itu lama. Namun, bukan pekerjaan yang ada di pikirannya. Pikirannya melayang pada gadis itu, Reina. Yoga menunduk, menghela napas, tangannya memijat pelipis. "Gue ngapain sih sebenernya?" gumamnya heran pada diri sendiri mengapa memikirkan Reina lagi. Hubungan yang baru saja ia alami bersama Reina jelas bukan hal yang bisa dianggap remeh, apalagi dengan alasan sesederhana "karena Reina mau menikmati hidupnya sebelum meninggal. Tapi di sisi lain, Yoga juga tahu, Reina bukan tipe yang ingin dikasihani, meski kenyataannya dia memang seperti minta dikasihani. Dan lebih buruknya, Yoga menuruti itu. Ponselnya menyala. Ia melihat ke layar. Tidak ada pesan dari Vania. Yoga mengecek notifikasi, scroll w******p, lalu membuka kembali percakapan terakhir mereka. Dan masih tidak ada kabar sejak pertengkaran mereka malam itu. Seperti biasa dia yang harus mengalah. Yoga mengetik pesan, nampaknya kali ini ia harus mengalah lagi. Yoga: Van, kamu di mana? Gimana kalau kita belanja hari ini? Kamu mau apa? Kita belanja sesuai kemauan kamu. Pesan itu terlihat seperti upaya perbaikan hubungan mereka yang basi, tapi ia tetap mengirimnya. Layar belum mati ketika pesan centang dua berubah biru. Tak lama, balasan masuk. Vania: Iya ga, aku ada di rumah. Oke aku siap-siap aku tunggu kamu di rumah ya. Yoga mendengus, tawa kecil keluar dari tenggorokannya, bukan karena lucu, tapi karena miris dengan dirinya sendiri. "Ngalah, lagi dan lagi." Dia sadar kalau ini salah, tapi rasanya dia sudah terlalu bucin pada gadis itu. "Bego banget," gumam yoga kenal pada dirinya sendiri. Miris memang jika dia merasa suci padahal baru tadi malam ia tidur dengan perempuan lain, dan sekarang mencoba memperbaiki hubungan dengan pacarnya hanya karena rasa bersalah samar? Tangannya mengusap wajah, hati dan pikirannya kacau. Tapi, Vania juga tak bisa dibenarkan, sudah berkali-kali. Bukan hanya sekali ia meninggalkan yoga dengan laki-laki lain, dan dengan bodohnya, Yoga memaafkan itu. "Gue mikir apa sih?" gerutu yoga pada diri sendiri. Pria itu ingat betul saat pertama kali mereka bertemu, lima tahun lalu. Vania adalah gadis yang ceria, penuh energi, dan tahu cara membuat pria merasa dibutuhkan. Tapi lambat laun, keceriaan itu menjadi beban. Permintaan perhatiannya tidak ada habisnya. Ia ingin ditemani ke salon, makan, belanja, bahkan hanya untuk memilih warna kuku. Dan Yoga, dia butuh ruang. Pria itu butuh ruang untuk bekerja, untuk berpikir. Hidupnya tidak bisa hanya tentang menyenangkan hati pasangan setiap waktu. Tapi ia mencintai Vania. *** Yoga sudah berganti pakaian, mengenakan kemeja hitam polos dan celana panjang hitam. Rambutnya disisir rapi. Ia bercermin sebentar, lalu turun ke garasi. Dalam perjalanan menuju mall, ia tak henti-hentinya memikirkan satu hal. "Kalau gue beneran sayang, kenapa gue bisa tidur sama orang lain? Kalau Vania sayang gue, kenapa dia selalu selingkuh sama laki-laki lain?" Pikiran itu menyiksanya. Namun di saat yang sama, wajah Reina terbayang di pikirannya. Bukan wajah menggoda seperti yang biasanya ia temui pada perempuan-perempuan yang ingin sekadar bermain. Tapi wajah dengan tatapan putus asa. Sementara itu, di kos Reina, Reina berdiri di lantai kamar mandi, memeluk lututnya. Rambutnya masih basah, handuk sudah ditinggalkan. Ia hanya mengenakan kaus longgar dan celana pendek, menatap ubin yang dingin tanpa ekspresi. Tangan kanannya menyentuh bagian perut bawah, masih nyeri. "Gue udah niat," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku yang minta. Kenapa malah nyesel sih?" Reina dilema, ia lalu menyeka air matanya dengan kasar, marah pada dirinya sendiri karena menangis. Reina berjalan keluar kamar mandi dan menyalakan laptopnya. Ia membuka folder berisi catatan medis —hasil dari rumah sakit, rekam hasil MRI, surat dokter, semuanya. Ia membaca ulang, walau sudah hafal luar kepala. Kanker darah, stadium lanjut dan waktu tersisa tak pasti. "Gue cuma akan nikmati hidup, gue nggak boleh jatuh cinta," ucapnya. "Gue cuma pengen rasain hidup baru, udah, titik!" Di mall, Yoga bertemu Vania di lobi. Seperti biasa, Vania datang dengan gaun mahal, heels tinggi, dan tas branded yang baru. "Sayang! Udah nunggu lama, ya?" Vania memeluknya dan mencium pipinya. Dengan akrab dan mesra seakan tak ada yang terjadi. Yoga membalas pelukan itu dengan singkat. "Baru sampai juga," jawabnya pendek. "Kita jadi belanja kan hari ini?" tanya Vania. "Yes, jadi." Mereka berjalan menyusuri butik demi butik. Vania menunjuk-nunjuk, memilih, mencoba, tertawa. Seolah pertengkaran mereka tak pernah terjadi. Seolah semua baik-baik saja. Namun, bagi Yoga, rasanya ada yang berubah. Setiap tawa Vania terdengar, biasa saja. Setiap sentuhan Vania terasa seperti sama tiada arti. Dan saat ia melihat Vania di depan cermin toko, tersenyum bangga dengan dress barunya— Yoga merasa semakin jauh dari perempuan yang dulu ia cintai. Semua sudah ia rasakan kosong sejak lama, entah kapan. Namun, kini semua semakin jelas. "Aku happy banget sayang, makaish baby." Vania ucapkan lalu mengecup pipi yoga. "Kita makan dulu." Yoga mengajak Rania senyum. Mereka berjalan mejuju kafe yang jaraknya tak jauh dari mal. Dikursi kafe setelah belanja, Vania menyender manja. "Makasi ya sayang udah ngajak aku belanja. Kamu emang pacar tersayang!" Seperti biasa, pujian dan tawa hanya ditunjukkan gadis itu setelah puas berbelanja. Yoga tersenyum tipis. "Van," panggilnya. "Hm?" Vania menatap. "Kamu masih sayang sama aku?" Yoga bertanya tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Vania mengerutkan dahi. "Maksudnya?" Yoga menatap mata Vania yang bingung. "Aku udah nggak yakin sama hubungan ini. Kita kayak maksa jalan terus, tapi nggak tahu mau ke mana. Kamu nggak capek? Dan aku ngerasa yang kamu butuh bukan aku, bener kan?" Vania mendadak diam. Ia tidak suka percakapan serius. Ia tidak suka kata-kata yoga barusan. "Aku sayang kamu, Baby." "Sayang sama hal-hal yang aku lakuin buat kamu atau sama orangnya?" Yoga bertanya lagi sambil menatap Tania lekat. Vania terdiam lebih lama, ia tidak berani menjawab. Yoga menarik napas seolah menemukan jawaban dari diamnya Vania. "Aku juga sayang kamu, tapi mungkin udah beda. Kita terlalu nyaman sampai lupa, harusnya ini tuh tentang masa depan, bukan cuma bertahan karena kebutuhan." Hening Vania beruswha untuk mengalihkan pandangannya. Dan itu, membuat Yoga tahu. Ada sesuatu yang harus ia lepaskan, agar ia tahu ke mana langkahnya sebenarnya. Dia sadar sebenarnya Vania hanya membutuhkan uangnya bukan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN