Reina terbangun saat sinar matahari menyusup masuk lewat celah tirai jendela kamar hotel. Ia mulai terbangun setelah malam panas yang dia habiskan dengan Yoga semalam.
"Sshh, pusing," gumam Reina sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Reina menggeliat, tapi tubuhnya terasa sakit juga terutama pada bagian bawah. Dan ketika membuka mata, Reina baru sadar ia sedang memeluk seseorang, Yoga. d**a pria itu terasa hangat di wajahnya, dadanya bernapas naik dan turun teratur, dan tangannya melingkar erat di pinggang Reina.
"Apa nih?" Reina bergumam pelan. Ia mencoba mengingat, kemudian melihat bagian tubuh bawahnya dari balik selimut dan — "Enggak pake apa-apa?" Dia berbisik pada diri sendiri.
Tubuh Reina tegak, matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup sangat cepat. Apa yang terjadi semalam? Pertanyaan itu hanya sempat singgah sebentar dan kini rasa perih di bagian bawah tubuhnya menjawab segalanya.
"Sshh, perih," keluhnya. Atas bawah, bagian tubuhnya sakit semua. "Apa nih?"
Dengan pelan, Reina bergerak berniat membuka diri dari selimut dan bergerak turun dari tempat tidur. Tapi gerakannya membuat Yoga mengerang pelan, lalu tanpa membuka mata, pria itu menarik tubuh Reina kembali ke pelukannya.
"Jangan gerak dulu," kata Yoga suaranya serak dan berat karena baru bangun. "Aku masih ngantuk. Nanti posisi berubah, ilang ngantuk aku gara-gara kamu."
Reina terdiam kembali pada posisi, lalu menatap wajah Yoga dari jarak dekat. Pria itu kembali tidur lelap, memejamkan mata seperti anak kecil dengan wajah tampan dan tubuh yang sempurna bagi Reina.
Reina ingin berkata sesuatu, tapi tak jadi. Ia hanya diam dan menurut. Untuk beberapa saat, ia biarkan tubuhnya kembali menempel pada Yoga. Yoga tiba-tiba tertawa kecil. Suaranya berat tapi terdengar geli.
"Lo nurut banget, ya," kata yoga tanpa membuka mata.
Reina memutar bola matanya kesal karena merasa dipermainkan oleh Yoga. "Nyebelin." Dia bergumam kesal
Yoga akhirnya membuka mata, tertawa kecil. "Oke. Silakan bangun, cewek Penurut."
Dengan langkah pelan, Reina turun dari ranjang, menyusuri lantai dingin kamar itu sambil memungut satu per satu pakaiannya yang berserakan dress hitam, bra, celana dalam. Ia memeluk semuanya di d**a, lalu masuk ke kamar mandi dengan langkah pelan dan hati yang sesak.
Begitu pintu tertutup, Reina bersandar pada dinding keramik dan memejamkan mata. "Bego banget sih," katanya kesal pada diri sendiri.
Ada sedikit rasa menyesal dalam hatinya. Ia tatap dirinya di cermin, wajah dengan riasan yang masih tersisa tipis, rambut kusut, dan semua tampak asing. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri yang kacau.
"Tapi ini keputusan gue." Reina mengangguk pada dirinya sendiri. Tubuhnya mungkin menyesal, tapi hatinya tidak. Ia memang datang ke malam itu dengan niatnya yang kuat. Ia tahu ini bukan jalan yang benar.
"Yaudah."
Setelah mandi dan mengenakan kimono handuk hotel, Reina keluar. Rambutnya masih basah, mata sedikit sembab, tapi wajahnya sudah lebih segar.
Di meja kecil dekat jendela, Yoga duduk santai. Tubuhnya hanya dibalut celana panjang, dadanya telanjang, kulitnya kecokelatan dan otot-ototnya tergambar jelas, bagian tengahnya terlihat tato yang membuatnya terlihat semakin macho dan seksi. Pria itu kini sedang mengaduk kopi.
"Pagi," sapa Yoga ketika dia melihat Reina keluar dari toilet, pria itu tersenyum sambil menyodorkan satu gelas.
Reina menerima kopi itu. "Makasih."
"Aku udah pesen sarapan, dikit lagi dianter," kata Yoga, lalu menyeruput kopinya.
Reina duduk di kursi seberang Yoga. Sesaat keduanya hanya diam, saling mencuri pandang. Sampai akhirnya, suara berat Yoga terdengar.
'kamu itu kemarin nggak lagi mabuk atau gimana kan?" Yoga bertanya bosan dengan kesunyian yang terjadi di antara mereka.
Reina yang sedang menyeruput kopinya yang mengganggu, dia menatap Yoga dari ujung cangkir. "Iya, kenapa gitu?"
"Kalau kamu sadar, kenapa kamu, nyerahin keperawanan kamu ke sembarang laki-laki?"
Reina meletakkan kembali cangkirnya, kemudian menatap pada Yoga. "Aku nggak anggap kamu sembarang laki-laki. Tapi iya, aku emang mau ngelakuin ini aja."
Yoga mengangkat alis, menunggu lanjutan kata-kata Reina..
"Aku mau nikmatin sisa hidup aku denga ngelakuin hal-hal yang gak pernah bisa aku rasain," ujar Reina pelan. "Lagian, hidup baik-baik itu nggak ngejamin semuanya akan berjalan dengan baik kok. Jadi nggak ada salahnya, ketika aku mau sedikit nikmatin hal yang gak pernah aku nikmatin sebelumnya." Reina katakan itu dengan memaksakan senyum.
Yoga hanya diam, mendengarkan sambil memainkan cangkir kopi di tangan dia merasa ada sesuatu yang belum selesai diungkapkan.
"Aku sakit kanker, Ga," lanjut Reina.
Yoga terlihat lebih serius, dia bahkan berhenti memainkan cangkir.
"Aku nggak nyari simpati. Aku cuman mau nikmatin hidup dengan melakukan itu yang aku bilang tadi kamu mau nggak nemenin aku buat ngelakuin dosa sama-sama?" Entar denger gila memang tapi kata-kata itu terlantar begitu saja dari bibir Reina.
Ada senyum kecil di ujung kalimat Reina. Entah itu perasaan getir, atau itu tulus. Tapi Yoga tetap diam, mencerna semua yang baru saja ia dengar.
Reina menatap pria itu. Yoga dengan tubuhnya yang sempurna, dengan wajah dan senyum yang bisa buat siapa pun jatuh. Reina menatapnya seperti seseorang yang tak akan bisa dia miliki dalam keadaan normal, tapi cukup dinikmati dari kejauhan. Tapi dia setengah gila sekarang.
Yoga akhirnya bicara. "Tapi aku pengangguran."
Reina tersenyum kecil. "Aku punya tabungan dari kerjaan. Gimana?"
"Bayaran aku mahal." Yoga katakan lagi.
Reina terkekeh, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kasih dispensasi lah buat orang yang mau mati kaya aku."
Yoga tertawa, tapi tawanya berhenti cepat. Ia menatap Reina lama. Wajah perempuan itu. Sorot matanya. Cara ia bicara soal hidup dan mati seolah sedang membahas hal sederhana yang menyenangkan. Semua itu membuat sesuatu dalam diri Yoga sedikit teriris.
Yoga ingat ibunya. Yang juga sakit kanker, terpaksa juga menyembunyikan sakitnya dari semua orang, sampai semuanya terlambat. Yoga menatap Reina lama. Ia seperti melihat ulang masa lalunya dalam bentuk yang berbeda.
"Umur kamu berapa?" tanya Reina tiba-tiba.
"Dua puluh lima," jawab Yoga sambil menyesap kopi.
Reina tersedak kecil. "Serius? Kita beda sepuluh tahun dong."
Yoga mengerutkan kening. "Emang kamu umur berapa?"
"Udah deh, nggak penting."
"Eh, bilang aja. Biar aku tahu harga pasarannya," goda Yoga.
Reina mendesah. "Tiga puluh lima."
Yoga mengangguk pelan. "Hm. Yang penting kamu bisa ngasih aku uang, ya?"
Reina melotot, lalu keduanya tertawa. Tapi tawa mereka cepat mereda. Yang tertinggal hanya keheningan yang terasa aneh dan akrab.
Dalam hatinya, Yoga tahu, dia belum punya rasa apa-apa. Tidak ada cinta atau suka Tapi ia juga tahu satu hal semalam adalah malam yang aneh, tak biasa, dan nyata. Reina telah memberinya sesuatu yang besar. Dan untuk pertama kalinya, Yoga merasa terikat.
"Deal, simpan uang kamu. Aku bisa cari uang sendiri. Aku ini laki-laki yang anti makan yang perempuan. Kita lakuin yang kamu mau, cari dosa ternikmat nikmatin hidup kamu, sama aku." Yoga katakan