oh lima

1164 Kata
Lampu-lampu di klub masih berputar, memantulkan warna-warna ke kulit Reina yang sudah terasa panas. Udara bercampur aroma alkohol dan parfum mahal. Tapi di antara keramaian itu, hanya satu suara yang terdengar jelas di telinga Reina. "Mau minum?" Yoga menggeser satu gelas ke arahnya. Isinya bening, berkilau samar di bawah sorot lampu yang redup. Reina menatapnya ragu ke arah gelas, lalu ke arah yoga. "Aku nggak pernah minum yang kayak gini," katanya jujur, memandangi permukaan gelas yang bergetar sedikit karena dentuman musik. Yoga menyandarkan punggungnya ke sofa, mengangkat gelasnya sendiri dan menyesapnya perlahan. Ia tampak tenang, nyaris tak terpengaruh apa pun, telah terbiasa. "Rasanya pahit," kata Yoga berusaha mendeskripsikan. "Kami bilang cari dosa, ini salah satu dosa yang bikin orang lupa segalanya. Dosa yang harus kamu coba." Reina menoleh, menatap wajah pria itu. Yoga sangat dingin dan denang. Tapi ada sesuatu di balik mata Yoga, Reina mencoba membaca seperti apa yang pria itu lakukan sebelumnya. Mencoba mencari tahu, yoga itu seperti apa. Reina mengambil gelas itu perlahan. Jari-jarinya sloki dingin itu. Ia meneguk sedikit, rasanya pahit dan ada sensasi aneh ia rasakan, tidak enak. Wajah Reina meringis. "Gue bilang juga apa," kata Yoga lagi. Lalu Yoga terkekeh pelan melihat Rein. Yoga meneguk lagi, meringis sedikit bukan karena merasa geli, tapi karena terbiasa. Lalu menyesap lagi minumannya sambil terus menatap Reina. Reina diam, menatap gelas itu lagi. Lalu, seolah sedang menantang dirinya sendiri, ia meneguknya sekali lagi. Lebih banyak dari sebelumnya. Membuat Yuga tersenyum di sudut bibirnya. "Wih, keren juga." Yoga katakan sambil bertepuk tangan. Entah berapa menit berlalu. Mereka keluar dari klub dalam diam, tidak ada yang bertanya. Hannya saling tatap seolah mereka saling mengerti dan segera meninggalkan sofa lounge tadi. Dan entah siapa yang lebih dulu mengulurkan tangan untuk memesan taksi. Reina tak tahu bagaimana bisa dia kini berdiri di sebuah kamar hotel. Dinding putih, lampu kuning redup. Hanya satu tempat tidur besar di tengah ruangan, dengan seprai yang masih rapi. Reina berdiri mematung di dekat jendela, memandangi pantulan dirinya sendiri. Dress hitam itu, yang dulu hanya tergantung lama di lemari, kini melekat di tubuhnya. Di belakangnya, Yoga menutup pintu. Suara "klik" dari kunci pintu berbunyi membuat Reina menoleh. "Lo udah gila reina." Reina bergumam pelan untuk dirinya sendiri. Reina mematung menatap Yoga, langkah pria itu pelan, tapi tetap terdengar. Reina menelan ludah, tangannya dingin, tapi tubuh terasa panas. Saat Yoga berdiri di belakangnya, cermin memperlihatkan bayangan mereka berdua. Saling menatap, bukan sebagai pria dan wanita yang sedang jatuh cinta, tapi dua manusia yang sama-sama ingin melepaskan Maslaah satu sama lain. "Kamu yakin?" tanya Yoga, dengan suara berat. Reina menoleh, ia tak menjawab dengan kata-kata. Tangannya yang menjawab lebih dulu menyentuh kerah kemeja pria itu, lalu menarik wajahnya perlahan. Saat bibir mereka bertemu, semuanya seperti sebuah persetujuan dari Reina. Ciuman pertama itu pelan dan lembut membuat keduanya larut, saling larut dalam hasrat yang makin dalam, makin dalam. Yoga mencumbu bibir Reina perlahan, penuh perasaan. Reina gemetar, tapi tak menjauh. Tubuhnya menegang, tangannya tanpa sadar mengalumg di leher Yoga. Kecupan itu memabukkan, membuat Reina memejamkan mata. Yoga mencium sisi pipinya, turun ke rahang, lalu ke leher. Tangan Reina terangkat pelan, menyentuh rambut pria itu, menariknya lebih dekat. Mereka nyaris tak bernapas. Nafas mereka bersahutan, hangat dan memburu. "Oohh," lenguh Reina saat tangan yoga bergerak nakal menggoda meremas gemas. Pertama kali disentuh membuat Reina begitu sensitif. Kancing demi kancing kemeja Yoga terbuka satu per satu, memperlihatkan kulit putih dan sebagian tato di d**a dan tangan kirinya. Reina menatao dengan tatapan tergoda, terlalu seksi, tak salah Reina memilih yoga untuk saling berbuat dosa. Yoga memeluk lagu, menelusuri wajah reina terhenti di dekat telinga. "Buka baju kamu." Setelah itu, tangan Yoga menyusuri pinggang Reina, menelusuri garis tubuhnya yang selalu ia sembunyikan di balik busana sopan. Belahan dress Reina terbuka, memperlihatkan pahanya. Yoga mencium bagian itu. Reina mendesah. Bukan hanya karena terangsang, tapi karena... akhirnya dia merasakan hal yang tak pernah ia lakukan. "Hmph,* lirih Reina buat yoga tersenyum. Suara Rina begitu sensual di telinga. Saat dress itu melorot ke lantai dan tubuh Reina terbuka, kini tak ada rasa malu. Hanya sebuah bukti ahwa ia perempuan. Yoga menatap antusias, seksi, berisi tapi menggoda, kulit yang kontras dengan pakaian hitam yang dipakainya tadi. "Kamu seksi," goda Yoga omong kosong yang ia ucapkan hanya untuk merayu. Pelukan, kecupan, membuat mereka berpindah. Kini mereka sudah di atas ranjang, saling bersentuhan, saling menjelajah, tubuh yang bergetar, nafas yang cepat, ciuman yang lebih panas. Tangan yoga meraba memastikan semua sudah siap. Merasa basah Yoga tau dan mengerti sudah saatnya ia melakukan. Dalam pergerakan awal, membuat Yoga berhenti. Menata Reina tak percaya. "Kamu masih V?" Reina membuka mata, lalu mengangguk "Iya." Yoga menatap mata Reina, ada jeda panjang di antara mereka. Tangannya menggenggam wajah Reina pelan, memastikan. Berusaha bersabar dengan perasaan yang mendesak ingin diselesaikan. "Kamu yakin?" Tanya Yoga, lembut. Tak seperti tadi, entah mengapa ada rasa bersalah yang ia rasakan. Reina mengangguk. "Lanjut aja. Aku mau, semua malam ini. Malam ini aja." Yoga tidak langsung bergerak. Ia mendekatkan keningnya ke kening Reina, mencium kening Reina perlahan. Tangannya melingkar di pinggang perempuan itu, menarik tubuhnya mendekat. Mereka kembali berciuman, tapi kali ini berbeda sedikit ada kelembutan dalam gerakan yoga. Malam itu mereka tak berkata apa-apa lagi. Hanya suara desah dan ciuman yang saling bersahut. Tubuh mereka menyatu, perlahan, tapi tak ragu. Reina menggenggam seprai, matanya berair. "Sshh, sakit." Reina berujar lirih. "Dikit lagi, kamu mau kan?" Yoga bertanya. Reina mengangguk, yoga kembali mencium mengusap tiap titik kenikmatan untuk mengurangi rasa sakit. Perlahan, sampai akhirnya — "Akkhh!" Reina memekik, tangannya bahkan mengecengkram tangan yoga kuat-kuat. Yoga diam beberapa saat, tapi tangannya tak berhenti. Tangan lincah meraba tiap sisi, ia bahkan tak mendapat segel dari kekasihnya. Dan kini seorang perempuan gila memberikan ini padanya. "Masih sakit?" Yoga bertanya lembut. Reina menggeleng pelan. Pria itu kembali bergerak, pelan. Melihat bagian yang ia gerakan dengan noda merah jelas terlihat, tak banyak tapi ada. Yoga merasa bersalah lagi, tapi ia juga menikmati. Ironis memang. Pria itu terus bergerak, naik dan turun Dengan napas yang tak beraturan. Perlahan dan lama-lama semakin cepat saja. Reina mendesah kesakitan dan nikmat dalam waktu yang bersamaan. Yoga tersenyum kecil, tapi tak menghentikan gerakannya. Mau pipis? Sepolos ini kah? Pria itu terus bergerak sementara Reina sedikit meronta Dengan tubuh yang bergetar setelah puncak pertamanya. "Oh, hmph.* Reina terengah-engah. Yoga mendekat, mencium bibir Reina, lalu berbisik. "Kamu selesai," Yoga masih bergerak. Reina malu, demi apapun seumur hidup ia tak pernah melakukan hal-hal buruk apapun itu. Dan kini dalam semalam ia sudah mencoba semua dosa ternikmat di dunia. "Giliran aku," ucap yoga mempercepat gerakannya. Yoga terus bergerak semakin cepat saat ia hampir sampai pada puncak permainan. Semakin cepat dan hentakan yang kuat, sampai akhirnya ia sampai di akhir permainan. Bergerak dan menakan keras. Saat mereka selesai, Reina berbaring di d**a Yoga. Jari-jarinya menelusuri garis tato yang tadi sempat ia lihat. Yoga membiarkannya. Tangannya menyentuh rambut Reina, mengusap pelan. "Kamu nyesel?" tanya Yoga pelan ujung matanya menatap Reina. Reina diam sebentar. "Nggak," jawabnya akhirnya. Yoga memejamkan mata. "Aku juga."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN