Clara teduduk. Ia memandang dinding kamarnya yang putih polos. Berusaha menjernihkan pikiran dengan melakukan hal itu. Dulu, ia selalu berpikir, ketika para public figure dihujat, kenapa mereka tidak abaikan saja? Kenapa beberapa public figure harus merasa terhina dan sakit hati? Tinggal abaikan saja, beres. Ya, itu yang Clara pikirkan. Namun, setelah hinaan dan cacian itu terjadi kepada dirinya, ia berpikir lain. Ternyata, begini rasanya. Ternyata, memang tidak semudah dan sebiasa yang ia bayangkan. Sakit. Kenapa harus dirinya? Dan kenapa begitu tiba-tiba? Apakah memang benar apa yang netizen katakan? Bahwa ia tidak cocok dengan San? Bahwa memang ia hanya sekadar menumpang demi popularitas semata? Ia jadi mempertanyakan dirinya sendiri. Kemarin-kemarin, setiap berpikir tentang San,

