"Nona!" Suara Sekertaris Rey menyadarkanku. Pria itu sepertinya sama terkejutnya denganku. Aku menoleh, berusaha tersenyum. "Vi," ucapku mengabaikan panggilan Rey. Mataku berpaling mencari sosok Vivi. Tidak ingin terus bertatap dengan Rey yang menghakimi mataku. "Ya, Kakak ipar?" Mendekat dan mengusap lenganku. "Pulang, ayo kita pulang." ucapku terbata. Menarik lengan Vivi dan buru-buru berbalik. Untung Vivi mengerti keinginanku, mengangguk dan ikut melangkah. "Nona...." Panggil Rey lagi dengan lirih. Aku berbalik menatapnya intens. "Tidak apa-apa, Rey." Aku tersenyum semanis mungkin, mencoba memberi jelas jika aku baik-baik saja. Ya, walau tidak dapat di pungkiri jika semua yang disini melihat hal mengejutkan itu tadi. "Aku ingin pulang, Rey." "Oh ya, kau jangan ikut. Aku baik-ba