Irana terkejut dan sempat terdiam beberapa saat. Ia tidak menyangka Zayn justru akan membuka topik itu. “Maksudmu… berubah bagaimana?” tanyanya hati-hati. Zayn menyandarkan punggung, menatap ke arah jendela restoran. Ingatannya melayang ke masa itu, masa ketika ia terbaring di ranjang rumah sakit, kaki belum bisa digerakkan sempurna, dunia seakan runtuh, dan Nayla… pergi. “Saat aku dirawat,” ucap Zayn pelan, namun nadanya tajam dan menusuk, “apa yang sebenarnya terjadi padanya?” Irana terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke gelas di hadapannya, sementara otaknya bekerja cepat-mengarang, memilah, dan memilih kebohongan paling kejam yang bisa ia suguhkan. Ia harus memastikan satu hal: Nayla benar-benar terhapus dari hidup Zayn. Agar tidak ada lagi bayangan ma

