14. Tujuan Lain

1195 Kata

Irana nyaris melonjak dari duduknya saat mendengar kabar itu. “Benarkah, Bu?” tanyanya tidak percaya, matanya berbinar terang. “Untuk apa ibu bohong padamu, Ana?” sahut Grace sambil tersenyum puas. Ia sendiri ikut merasa bangga ketika menerima kabar langsung dari Warni. “Bahkan kata Tante Warni, pertemuan itu dimajukan atas keinginan Zayn sendiri.” Jantung Irana berdegup semakin kencang. Nama Zayn saja sudah cukup membuatnya bersemangat, apalagi mendengar bahwa lelaki itu yang meminta pertemuan tersebut dipercepat. Selama ini ia selalu berada di posisi menunggu-kini, seolah takdir akhirnya berpihak padanya. “Namun,” Grace melanjutkan dengan nada lebih serius, “Tante Warni juga berpesan sesuatu.” Irana langsung memasang wajah serius, menunggu. “Kau harus lebih sabar menghadapi Zayn.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN