Nayla tetap menunduk, merapikan kain pel terakhir di sudut ruangan. Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara. Seolah semua yang barusan ia dengar, tentang restoran romantis, tentang perempuan bernama Irana Kaysa Sadewa, tidak benar-benar berpengaruh padanya sama sekali. Seakan-akan dia sama sekali tidak pernah mengenal nama itu. Padahal, di balik wajah datarnya, ada perih yang menekan d**a. Selesai sudah. Ia mengangkat ember, berniat keluar tanpa sepatah kata tambahan. Tidak ada alasan baginya untuk berlama-lama di ruangan itu. Tidak sekarang. Tidak setelah ia tahu, jarak antara dirinya dan Zayn terlalu jauh. Namun langkah Nayla baru dua langkah ketika suara Zayn meledak, keras dan penuh emosi yang bahkan tifak ia sadari sendiri. “Kau mau ke mana?!” Veronika tersentak. Tangannya yang se

