Pak Hidayat berdiri di depan pintu ruang eksekutif, ragu sesaat sebelum mengetuk. Tangannya terangkat, lalu berhenti, seakan masih berharap ada cara lain. Namun perintah tetap perintah. Tok. Tok. “Masuk.” Suara Zayn terdengar datar dari dalam. Pak Hidayat membuka pintu dan melangkah masuk dengan sikap hormat. Ruangan itu luas, rapi, dan terlalu tenang. Zayn berdiri membelakangi meja, menghadap jendela besar dengan pemandangan kota yang mulai diselimuti senja. “Laporan?” tanya Zayn tanpa menoleh. Pak Hidayat menelan ludah. “Perihal kontrak kerja atas nama Nayla Kirana, Tuan.” Zayn akhirnya berbalik. Tatapannya tenang, namun tajam, seperti ia sudah tahu jawabannya, hanya menunggu konfirmasi. “Dia menandatangani?” Nada suaranya rendah. Tidak tergesa. Tidak emosional. “Ya, Tuan,”

