“Makasih, ya, Da,” ucap Mas Hanif begitu aku menyerahkan dompetnya. Kami tidak jadi bertemu di ruang dosen, melainkan di resto yang dulu sering kami kunjungi saat masa awal-awal sandiwara. Sekalian Mas Hanif mengajakku makan siang bersama. “Iya, Mas. Sama-sama.” Sejujurnya, semakin aku melihat Mas Hanif, semakin aku kepikiran foto tadi. Fotonya sudah kukembalikan ke tempat semula dengan posisi yang juga sama persis. Aku belum berani bertanya karena aku ingin mencari tahu lebih dulu. Yang jelas, foto itu sudah kufoto dan kusimpan di gallery ponsel. Aku melakukan ini untuk jaga-jaga saja jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Aku sengaja tidak mengambil aslinya karena foto itu justru bisa kugunakan untuk menyerang Mas Hanif jika dia terbukti telah ‘jahat’ padaku. “Da … sebenarnya, Mas udah mulai