“Bodoh! Dasar bodoh! Kamu bodoh banget, Rizda! Kamu beneran sebodoh itu!” Aku terus merutuki diri sendiri. Merasa sangat bodoh dengan kepekaanku selama ini. Aku baru menyadari betapa aku terlalu naif dan terlalu cepat percaya. Aku semakin merasa bodoh setelah pelan-pelan melakukan kilas balik hubunganku dengan Mas Hanif. Dari saat dia tiba-tiba mengakuiku sebagai calonnya di ruang dosen, sampai akhirnya dia berhasil membuatku jatuh cinta . Semua detailnya kuingat baik-baik. Dulu aku bingung, dulu aku heran, dulu aku juga tidak habis pikir. Aku sering bertanya-tanya kenapa Mas Hanif melakukan itu semua dengan begitu mudahnya. Mengejarku seperti aku ini tidak boleh lepas. Dia sampai rela melakukan banyak hal demi aku mau dinikahinya. Padahal, aku hanyalah orang asing yang baru saja dia ke