Vita mendengar panggilan dari ponselnya. Itu Ardan. Secepat kilat ia menerima dalam keadaan jiwa dan raganya yang sudah tidak lagi bisa dikatakan normal. Ia sangat frustrasi. Gedoran di jendelanya masih terdengar sehingga ia memutuskan untuk bersembunyi di balik selimut seraya mengaji, menunggu Ardan datang. Bukannya datang, Ardan malah menelepon. 'Tak tahukah Mas Ardan kalau aku sangat ketakutan sekarang?' batinnya. "Iya, Mas! Kamu di mana?" tanya Vita dengan suara yang bergetar. "Aku di depan kamar kamu, Ta. Buka pintunya!" "Hah! Depan pintu?" Vita menyembulkan kepala dan menatap pintu kamarnya yang tertutup. Dalam keadaan panik dan takut, ia sampai tidak mendengar suara gedoran di pintu kamar dengan suara Ardan dan beberapa suara lain yang ia kenal adalah pembantu rumahnya.