Pandangan Adam semakin lekat. Adam berusaha membuang semua rasa bimbang dan ragu pada dirinya sendiri. Kini yang ada hanyalah tentang rindu, rindu yang selalu hadir di mimpi Adam, walaupun Adam berada dalam kondisi amnesia saat ini. Tapi dengan kebersamaan ini seolah amnesia itu hilang, semua mimpinya terwujud, semua harapannya tergapai dengan mudah dan seluruh ingatannya tentang kenangan manis selalu mucul dan selalu mengganggu pikirannya. Keduanya duduk saling berhadapan. Dini duduk tegak dengan kedua kaki bersila dan bantal di atas pangkuannya. Sedangkan Adam berada di tepi kasur itu berhadapan dengan Dini. Mereka berdua hanya saling berpandangan melepas kerinduan mereka tanpa ada satu dua kata yang terucap dari bibir keduanya. "Mas, mencintaimu Dini," lirih Adam mengucapkan kata-ka

